Tag: Albumin

Glomerulus adalah struktur kecil berbentuk bola yang terdiri dari pembuluh darah kapiler aktif terlibat dalam penyaringan darah untuk membentuk urin.

Glomerulus di ginjal dinamakan demikian oleh ahli anatomi Italia Marcello Malpighi (1628-1694). Struktur ini pernah disebut sel malphigian. “Glomerulus” adalah kecil dari “glomus” Latin yang berarti “bola benang.” Secara harfiah “bola kecil benang”. Jamak: glomeruli.

Glomerulus yaitu simpul pembuluh darah dengan ukuran sangat kecil yang terletak disebalah dean nefron ginjal. Glomerulus merupakan bagian dari ginjal. Glomerulus adalah tempat penyaringan darah yang berperan dalam menyaring air, garam, asam amino, glukosa dan urea. Serta menghasilkan urin primer.

Fungsi utama atau paling penting glomerulus adalah sebagai alat penyaringan/filtrasi dimana ini adalah proses pertama darah disaring untuk menghasilkan urin.

Urin primer yang berasal dari glomerulus akan diangkut ke tubulus kontortus proksimal yang juga salah satu bagian dari nefron ginjal. Glomerulus diselubungi oleh kapsula Bowman yang bentuknya seperti cangkir. Glomerulus dengan kapsula Bowman akan membentuk renal korpuskula.

Fungsi Glomerulus

Adapun fungsi glomerulus yaitu:

  • Glomerulus melakukan eleminasi toksin (racun) pada darah
  • Sebagai penghasil urin primer yang harus diproses pada tahap berikutnya.
  • Glomerulus sebagai penyaring air, asam amino, glukosa dan urea
  • Sebagai pengatur tekanan dan volume darah dengan sel jukstaglomerular
  • Glomerulus menjalankan proses penyaringan (filtrasi) yang merupakan bagian dari proses penyaringan darah di nefron ginjal.
  • Sebagai pencegahan molekul dengan ukuran besar seperti protein masuk ke nefron.
  • Glomerulus melakukan pembersihan zat kimia yang masuk melalui makanan/minuman. Zat-zat seperti pemutih, penjernih, pengawet, pengental, pewarna, penyedap dan pemanis buatan harus dikeluarkan oleh ginjal berupa air seni (urin).
  • Mensekresikan limbah nitrogen dari hasil metabolisme protein seperti urea atau BUN, serta kretanin dan asam urat baik yang bersumber dari makanan atau kerusakan otot.
  • Glomerulus mempertahankan zat yang bermanfaat seperti albumin (protein darah) dan glukosan (gula darah) supaya kedua zat tersebut tidak tertukar.

Pengertian Glomerulus

Glomerulus adalah salah satu struktur kunci yang membentuk nefron, unit fungsional ginjal. Glomerulus sebagaimana sudah dijelaskan pada awal paragraf diatas, merupakan simpul dari pembuluh darah yang berukuran kecil yang berperan dalam penyaringan darah untuk menghasilkan urin.

Gangguan

Glomerulonefritis adalah salah satu jenis penyakit ginjal di mana terjadi peradangan pada glomerulus. Glomerulus adalah bagian ginjal yang berfungsi sebagai penyaring dan membuang cairan serta elektrolit berlebih, juga zat sisa (sampah) dari aliran darah. Kerusakan pada glomelurus akan menyebabkan terbuangnya darah serta protein melalui urine.

Kondisi glomerulonefritis pada masing-masing penderita bisa berbeda-beda. Ada yang mengalaminya dalam waktu singkat (akut) dan ada yang jangka panjang (kronis). Penyakit ini juga bisa berkembang pesat sehingga mengakibatkan kerusakan ginjal dalam beberapa minggu atau bulan, keadaan ini disebut rapidly progressive glomerulonephritis (RPGN).

Glomerulonefritis akut biasanya merupakan respons tubuh terhadap infeksi yang sedang terjadi pada tubuh. Sedangkan glomerulonefritis kronis seringkali tidak diketahui penyebabnya dan tidak bergejala, sehingga dapat menyebabkan kerusakan ginjal yang tidak dapat diperbaiki kembali. Glomerulonefritis kronis yang ditemukan awal, dapat dicegah perkembangannya.

Gejala-gejala Glomerulonefritis

Gejala yang muncul pada penderita glomerulonefritis bergantung kepada jenis penyakit ini, apakah akut atau kronis. Gejala yang umumnya muncul, antara lain adalah:

  • Urine yang berbuih dan berwarna kemerahan.
  • Hipertensi.
  • Pembengkakan pada wajah, tangan, kaki, dan perut.
  • Kelelahan.
  • Frekuensi buang air kecil berkurang.
  • Munculnya cairan di paru-paru yang menyebabkan batuk.

Glomerulonefritis kronis seringkali sulit terdeteksi karena dapat berkembang tanpa menimbulkan gejala. Apabila muncul gejala, gejalanya dapat serupa dengan gejala yang ada pada glomerulonefritis akut. Namun, berbeda dengan glomerulonefritis akut, pada glomerulonefritis kronik dapat terjadi frekuensi buang air kecil yang meningkat di malam hari.

Penyebab dan Faktor Pemicu Glomerulonefritis

Glomerulonefritis dapat terjadi akibat berbagai kondisi, seperti infeksi, kelainan sistem imun, dan gangguan pembuluh darah. Umumnya, glomerulonefritis akut memiliki penyebab yang lebih jelas dibanding glomerulonefritis kronis. Beberapa hal yang dapat menyebabkan glomerulonefritis akut, antara lain adalah:

  • Infeksi. Glomerfulonefritis dapat terjadi akibat infeksi bakteri atau virus. Infeksi yang terjadi pada tubuh mengakibatkan reaksi kekebalan tubuh yang berlebihan sehingga mengakibatkan peradangan pada ginjal dan terjadi glomerulonefritis. Contoh infeksi yang dapat menyebabkan glomerulonefritis, antara lain adalah infeksi bakteri Streptococcus pada tenggorokan, infeksi gigi, endokarditis bakteri, HIV, hepatitis B, dan hepatitis C.
  • Kelainan sistem imun. Contohnya adalah penyakit lupus yang menyebabkan peradangan pada berbagai organ tubuh, termasuk ginjal. Selain itu glomerulonefritis juga dapat disebabkan oleh kelainan sistem imun lainnya, seperti sindrom Goodpasture yang menyerupai pneumonia dan menyebabkan perdarahan di paru-paru dan ginjal, serta nefropati IgA yang menyebabkan endapan salah satu protein sistem pertahanan tubuh (IgA) pada glomerulus ginjal.
  • Vaskulitis. Vaskulitis dapat terjadi pada berbagai organ, termasuk ginjal. Contoh penyakit vaskulitis yang menyerang pembuluh darah ginjal dan mengakibatkan glomerulonefritis adalah poliarteritis dan granulomatosis Wegener.

Glomerulonefritis kronis seringkali tidak memiliki penyebab yang khusus. Salah satu penyakit genetik, yaitu sindrom Alport dapat menyebabkan glomerulonefritis kronis. Paparan zat kimia pelarut hidrokarbon dan riwayat kanker juga diduga memicu terjadinya glomerulonefritis kronis.

Diagnosis Glomerulonefritis

Untuk memastikan diagnosis, dokter akan menganjurkan beberapa pemeriksaan, seperti:

  • Pemeriksaan urine. Pemeriksaan urine merupakan metode terpenting dalam mendiagnosis glomerulonefritis karena dapat mendeteksi adanya kerusakan struktur glomerulus. Beberapa parameter yang dianalisis melalui pemeriksaan urine, antara lain adalah:
    • Keberadaan sel darah merah sebagai penanda adanya kerusakan glomerulus.
    • Keberadaan sel darah putih sebagai penanda adanya peradangan.
    • Menurunnya berat jenis urine.
    • Keberadaan protein sebagai penanda adanya kerusakan sel ginjal.
  • Tes darah. Tes darah dapat memberikan informasi tambahan terkait kerusakan ginjal. Beberapa hal yang dapat diperiksa pada darah untuk melihat kerusakan ginjal, antara lain:
    • Menurunnya kadar hemoglobin (anemia).
    • Meningkatnya kadar zat sisa seperti ureum dan kreatinin.
    • Menurunnya kadar protein albumin dalam darah karena keluar melalui urine.
  • Tes Imunologi. Tes imunologi dilakukan untuk mendapatkan informasi mengenai kelainan sistem imun. Pemeriksaan tersebut antara lain antinuclear antibodies (ANA), komplemen, antineutrophil cytoplasmic antibody (ANCA), dan antiglomerular basement membrane (anti-GBM).
  • Pencitraan. Pencitraan bertujuan untuk memperlihatkan gambaran kondisi ginjal secara visual. Metode pencitraan yang dapat digunakan, antara lain adalah foto Rontgen, CT scan dan USG.
  • Biopsi ginjal. Dilakukan dengan mengambil sampel jaringan ginjal dan diperiksa di bawah mikroskop untuk memastikan pasien menderita Biopsi juga akan membantu dokter untuk mencari penyebab dari glomerulonefritis tersebut.

Pengobatan Glomerulonefritis

Langkah pengobatan untuk tiap penderita glomerulonefritis tentu berbeda-beda. Perbedaan ini ditentukan oleh beberapa faktor, yaitu jenis glomerulonefritis yang diderita (kronis atau akut), penyebabnya, serta tingkat keparahan gejala yang dialami.

Tujuan utama pengobatan glomerulonefritis adalah untuk mencegah kerusakan ginjal yang lebih parah. Glomerulonefritis akut terkadang bisa sembuh dengan sendirinya tanpa membutuhkan penanganan tertentu, biasanya yang diakibatkan oleh infeksi Streptokokus pada tenggorokan.

Beberapa jenis pengobatan glomerulonefritis yang dapat diberikan, antara lain adalah:

  • Obat imunosupresan. Imunosupresan dapat diberikan untuk menangani glomerulonefritis akibat gangguan sistem imun. Contoh obat ini adalah kortikosteroid, cyclophosphamide, ciclosporin, mycophenolate mofetil, dan azathioprine.
  • Obat pengatur tekanan darah. Glomerulonefritis dapat menyebabkan tekanan darah meningkat dan menimbulkan kerusakan ginjal yang lebih parah. Oleh karena itu, tekanan darah penderita glomerulonefritis perlu diatur untuk mencegah kerusakan ginjal. Dua golongan obat yang dapat digunakan untuk mengatur tekanan darah adalah ACE inhibitors (contohnya captropil dan lisinopril) dan ARB (contohnya losartan dan valsartan). Selain itu, kedua golongan obat tersebut juga dapat mengurangi kadar protein yang bocor melalui urine, sehingga obat bisa tetap diberikan walaupun tekanan darah tidak tinggi.
  • Plasmapheresis. Dapat dilakukan pada penderita dengan hasil tes imunologi ANCA dan anti-GBM positif. Protein sistem imun (antibodi) yang terdeteksi melalui pemeriksaan imunologi biasanya terkandung dalam plasma darah. Untuk membuang antibodi tersebut, dilakukan pembuangan plasma darah penderita, melalui sebuah prosedur yang disebut plamapheresis. Plasma darah yang dibuang akan digantikan dengan plasma pengganti atau cairan infus.
  • Obat-obatan lain. Obat lain yang dapat diberikan, di antaranya adalah diuretik untuk mengurangi bengkak, dan suplemen kalsium.

Jika glomerulonefritis diketahui sejak awal, kerusakan ginjal yang disebabkan oleh glomerulonefritis akut dapat diperbaiki kembali. Jika glomerulonefritis yang terjadi bertambah parah dan menyebabkan gagal ginjal, penderita dapat menjalani proses hemodialisis (cuci darah) untuk menyaring darah. Selain itu, penderita juga dapat menjalani operasi cangkok ginjal.

Agar kerusakan ginjal tidak bertambah parah, penderita glomerulonefritis dapat menerapkan langkah-langkah pendukung pengobatan seperti berikut ini:

  • Menjaga berat badan.
  • Berhenti merokok.
  • Mengurangi asupan kalium.
  • Mengurangi asupan protein.
  • Mengurangi konsumsi garam.

Komplikasi Glomerulonefritis

Glomerulonefritis akut terkadang bisa sembuh tanpa penanganan tertentu. Tetapi secara umum, baik glomerulonefritis akut maupun kronis bila tidak ditangani secara benar, bisa bertambah parah dan memicu penyakit lain. Beberapa komplikasi yang mungkin terjadi adalah:

  • Hipertensi.
  • Sindrom nefrotik.
  • Gagal ginjal akut.
  • Penyakit ginjal kronis.
  • Gagal jantung dan edema paru akibat cairan yang menumpuk dalam tubuh.
  • Gangguan kesimbangan elektrolit seperti natrium dan kalium.
  • Rentan terhadap infeksi.


Air dadih (Whey) adalah produk yang diperoleh selama proses pembuatan keju. Kasein mengendap sementara protein whey tetap dalam larutan bersama-sama dengan komponen lain seperti laktosa atau mineral, yang whey. Air dadih ini memiliki karakteristik berwarna hijau kekuningan, keruh, segar, lemah manis, asam dengan kandungan nutrisi atau ekstrak kering 5,5% hingga 7%.

Air dadih mencapai volume ratusan ribu liter per tahun hanya di Spanyol. Beberapa tahun yang lalu, penghapusan produk sampingan ini dari industri keju menjadi masalah karena tidak dapat dibuang sebagai air limbah karena berfungsi sebagai tempat berkembang biaknya bakteri. Namun, sifat gizi protein air dadih telah dikenal selama beberapa tahun dan telah menjadi produk yang sangat diminati di bidang nutrisi.

Protein air dadih mewakili 20% protein susu, mereka adalah protein pencernaan yang cepat dan berkualitas tinggi. Mereka melawan relatif baik terhadap keasaman lambung dan melewati dengan cepat ke usus, menghasilkan peningkatan cepat dalam konsentrasi asam amino yang tersedia dalam darah.

Protein air dadih terdiri dari beta-laktoglobulin, alfa-laktoalbumin, albumin serum sapi, laktoferin, imunoglobulin, glikomakropeptida, laktosa, laktoperoksidase, dan mineral.

Protein air dadih atau whey diekstraksi dengan teknik yang berbeda dan digunakan dalam suplemen nutrisi dan dalam industri makanan untuk menambah susu padat dengan biaya rendah dan karena kandungan proteinnya, whey berfungsi sebagai agen pembusa, untuk retensi air bebas dan sebagai pengental, digunakan dalam makanan, terutama gula-gula.


Plasma darah adalah bagian cair dari darah dan merupakan bagian terbesar dari volumenya, dengan 55% dari total volume darah dalam tubuh manusia. Ini terutama terdiri dari air dan mengangkut sel-sel darah ke seluruh tubuh. Darah terdiri dari sel darah merah, sel darah putih, trombosit, dan plasma.

Fungsi plasma darah sangat penting untuk pertahanan kekebalan tubuh manusia, karena memainkan peran penting dalam proses pembekuan darah dan pengairan darah di seluruh organisme.

Plasma darah membantu menjaga tekanan darah dan mengatur suhu tubuh. Ini berisi campuran kompleks zat yang digunakan oleh tubuh untuk melakukan fungsi-fungsi penting.

Zat yang membentuk plasma adalah air (hingga 95% volume), protein terlarut (albumin serum, globulin dan fibrinogen), glukosa, faktor koagulasi, elektrolit (Na +, Ca2 +, Mg2 +, HCO3-, Cl- , Dll.), Hormon, karbon dioksida dan oksigen.

Tujuan utama plasma adalah untuk mengangkut nutrisi, hormon, dan protein ke bagian-bagian tubuh yang membutuhkannya. Pada gilirannya, sel-sel juga menyimpan produk limbah mereka ke dalam plasma untuk dibuang.

Plasma adalah komponen penting dalam pengobatan banyak masalah kesehatan yang serius. Inilah sebabnya mengapa orang didorong untuk menyumbangkannya.

Bersama dengan air, garam dan enzim, plasma manusia juga mengandung komponen penting. Ini termasuk imunoglobulin (antibodi), faktor koagulasi, dan protein albumin dan fibrinogen.

Ketika darah disumbangkan, profesional perawatan kesehatan dapat mengisolasi komponen-komponen ini dan mengkonsentrasikannya untuk digunakan sebagai perawatan untuk luka bakar, trauma, dan keadaan darurat medis lainnya.

Protein plasma dan antibodi juga digunakan untuk membuat terapi untuk penyakit kronis langka, seperti kelainan autoimun dan hemofilia.

Apa fungsi plasma darah?

Plasma darah bertanggung jawab atas berbagai fungsi tubuh. Di antara fungsi utama plasma darah dapat disebutkan:

Fungsi nutrisi

Yang mana plasma darah bertanggung jawab untuk mengangkut ke jaringan tubuh, berbagai zat yang bersifat pencernaan. Zat-zat ini berhubungan dengan glukosa, asam lemak, vitamin, mineral dan asam amino.

Fungsi transportasi

Plasma darah bertanggung jawab dan bertanggung jawab untuk mentransfer nutrisi ke seluruh tubuh. Ini didistribusikan ke sel-sel yang berbeda yang ada dalam metabolisme, yang bertanggung jawab untuk berbagai fungsi tubuh dan pertumbuhan sehat individu.

Fungsi ekskretoris

Ini terkait dengan fungsi transportasi plasma darah. Melalui fungsi ekskresi, plasma mengangkut limbah organik yang berasal dari sel yang ada di dalamnya, menuju ginjal. Pada gilirannya, mereka bertanggung jawab untuk menyaring dan menghilangkannya melalui urin.

Fungsi homeostatis

Berkat fungsi plasma darah inilah organisme tetap dalam keseimbangan. Yaitu, plasma juga melayani fungsi mempertahankan berbagai situasi fisiologis yang konstan, seperti suhu tubuh, glukosa darah, kadar oksigen darah, antara lain.

Fungsi pengaturan volume darah

Ini adalah salah satu tugas plasma darah yang mengacu pada pengaturan fungsi organik yang berbeda. Dalam hal ini, plasma bertanggung jawab untuk mengatur protein yang ada di dalamnya, terutama protein albumin.

Berkat ini bahwa tubuh dapat memperbaiki jaringan tubuh ketika mereka rusak. Dan, pada saat yang sama, bertanggung jawab atas pertumbuhan kain baru. Penting bahwa plasma mengatur jumlah albumin yang ada di dalamnya, karena keberadaannya sangat penting untuk menjaga tekanan darah.

Jika Deregulasi protein-protein ini Tingkatkan volume darah dan sebagai akibatnya akan meningkatkan tekanan darah, menjadi bahaya bagi jantung, dan bagi kehidupan subjek.

Fungsi pengaturan termal

Fungsi plasma ini terkait erat dengan fungsi homeostatis, karena plasma bertanggung jawab untuk menjaga suhu tubuh, campur tangan untuk pengaturannya.

Fungsi keseimbangan atau pengaturan elektrolit

Elektrolit berhubungan dengan garam yang ada dalam plasma darah. Ini termasuk, misalnya, kalsium, magnesium, kalium, dan banyak lainnya.

Menjadi yang bertanggung jawab atas berbagai fungsi tubuh, garam-garam ini harus diatur oleh plasma karena defisitnya akan menghasilkan beragam masalah fisik: kelemahan dalam kontraksi otot dan ketidakmampuan saraf untuk mengirimkan sinyal yang sesuai. ke otak dan sebaliknya.

Fungsi kimia

Plasma memenuhi fungsi perlindungan kekebalan terhadap infeksi yang mungkin terjadi pada tubuh.

Plasma darah memiliki tugas pertahanan imunologis manusia, yaitu mengangkut albumen ke seluruh tubuh, bersama dengan Immunoglobulin (Antibodi), yang bertanggung jawab untuk memerangi zat asing apa pun untuknya.

Itu tidak hanya membela tubuh dari infeksi kekebalan tubuh, tetapi juga melakukannya mengenai kemungkinan kehilangan darah.

Fungsi lain yang mungkin

Keberadaan plasma darah sangat penting bagi kehidupan manusia. Untuk situasi yang berbeda, ketika plasma darah terpengaruh, itu bisa berisiko. Karena itu, plasma dapat disumbangkan dari satu subjek ke subjek lainnya, melalui ekstraksi darah.

Berkat proses ini, yang disebut Plasmapheresis, ketika orang yang menerima darah donor dapat menutupi berbagai kekurangan sistem organ mereka, seperti pengaturan sel darah merah dan / atau putih, pada saat yang sama dengan jumlah trombosit dapat disesuaikan, jika ada defisit yang sama.

Juga plasma dapat digunakan untuk pengobatan berbagai penyakit imunologis.

Pada saat yang sama dapat digunakan untuk membantu dalam pembekuan darah dalam kasus-kasus hemofilia (Pendarahan).

Menjadi pengangkutan zat yang berbeda dan pengatur elemen yang berbeda hadir di dalamnya, yang mempengaruhi keseimbangan organik, plasma juga dapat digunakan untuk pengobatan kegagalan pernapasan. Dan, untuk membantu proses penyembuhan atau rekonstruksi jaringan jika terjadi operasi atau cedera serius.


Hormon tiroid adalah turunan dari asam amino tirosin yang terikat secara kovalen dengan yodium. Dua hormon tiroid utama adalah:

  • tiroksin (juga dikenal sebagai T4 atau L-3,5,3 ‘, 5’-tetraiodothyronine)
  • Tri-iodotironina (T3 atau L-3,5,3′-triiodothyronine)

Seperti ditunjukkan dalam gambar berikut, hormon tiroid pada dasarnya adalah dua tirosin yang dihubungkan bersama dengan penambahan yodium pada posisi tiga atau empat pada cincin aromatik. Jumlah dan posisi yodium penting. Beberapa molekul iodinasi lain dihasilkan yang memiliki sedikit atau tidak ada aktivitas biologis; disebut “reverse T3” (3,3 ‘, 5’-T3) adalah contoh seperti itu.

Struktur Hormon tiroid
Struktur Hormon tiroid

Sebagian besar hormon tiroid yang dikeluarkan dari kelenjar tiroid adalah T4, tetapi T3 adalah hormon yang jauh lebih aktif. Meskipun beberapa T3 juga disekresikan, sebagian besar T3 berasal dari peniodinasian T4 dalam jaringan perifer, terutama hati dan ginjal. Deiodinasi T4 juga menghasilkan T3 terbalik, sebuah molekul tanpa aktivitas metabolisme yang diketahui.

Hormon tiroid tidak larut dalam air, dan lebih dari 99% T3 dan T4 yang bersirkulasi dalam darah terikat dengan protein pembawa. Pembawa utama hormon tiroid adalah globulin pengikat tiroksin, glikoprotein yang disintesis di hati. Dua pembawa impor lainnya adalah transthyretin dan albumin. Protein pembawa memungkinkan pemeliharaan kumpulan hormon tiroid yang stabil yang darinya hormon aktif dan bebas dilepaskan untuk diserap oleh sel target.


Antioksidan biologis dapat didefinisikan sebagai zat (hadir dalam konsentrasi rendah dibandingkan dengan substrat teroksidasi) yang secara signifikan menunda atau menghambat oksidasi substrat. Antioksidan dapat dianggap sebagai pemulung radikal bebas. Produksi radikal bebas dan netralisasi oleh antioksidan adalah proses tubuh yang normal.

Antioksidan buatan

Propil galat, Hidroksianisola berbutil (BHA) dan Butil hidroksi toluena (BHT) adalah contoh dari antioksidan buatan. Mereka digunakan sebagai aditif makanan, ditambahkan ke makanan untuk mengawetkannya.

Antioksidan alami:

Mereka termasuk zat yang terjadi secara alami seperti vitamin E (Tokoferol), vitamin C, karoten dan beberapa enzim (peroksidase dan superoksida dismutase). Mereka lebih lanjut diklasifikasikan menjadi antioksidan pencegahan dan rantai putus.

Antioksidan dalam kaitannya dengan peroksidasi lipid

  • Antioksidan preventif akan menghalangi produksi awal radikal pohon mis. katalase, glutation peroksidase.
  • Antioksidan pemecah rantai yang menghambat fase propagatif peroksidasi lipid, mis. superoksida dismutase, vitamin E, asam urat.

Antioksidan sesuai dengan lokasinya

  • Antioksidan plasma, mis. β-karoten, asam askorbat, bilirubin, asam urat, seruloplasmin, transferin.
  • Antioksidan membran sel, mis. α-tokoferol.
  • Antioksidan intraseluler mis. superoksida dismutase, katalase, glutation peroksidase.

Antioksidan sesuai dengan sifat dan tindakan mereka

  • Antioksidan enzimatik mis. superoksida dismutase, katalase, glutation peroksidase, glutation reduktase.

Antioksidan non-enzimatik

  • Antioksidan nutrisi, mis. karotenoid (β-karoten), α-tokoferol, asam askorbat, selenium.
  • Antioksidan metabolik, mis. glutathione, ceruloplasmin, albumin, bilirubin, transferin, ferritin, asam urat

Sistem enzim antioksidan

Enzim antioksidan benar-benar pemulung radikal bebas.

Superoksida dismutase:

Ini mengubah superoksida menjadi hidrogen peroksida dan oksigen. Ini adalah garis pertahanan pertama untuk melindungi sel dari efek superoksida yang merusak.

Katalase:

  • Hidrogen peroksida, diproduksi oleh superoksida dismutase, dimetabolisme oleh katalase

Glutation peroksidase:

  • Ini mendetoksifikasi H2O2 ke H20, sementara glutathione tereduksi (G-SH) diubah menjadi glutathione teroksidasi (GS-SG).
  • Glutathione tereduksi dapat diregenerasi oleh enzim glutathione reductase menggunakan NADPH.
  • Pirau heksosa monofosfat adalah sumber utama NADPH.

Antioksidan nutrisi

Tokokol (vitamin E):

Vitamin E larut dalam lemak, dan di antara tokoferol, α-tokoferol adalah yang paling aktif secara biologis. Ini adalah antioksidan yang ada di semua membran sel, melindungi terhadap Peroksidasi Lipid. α-Tokoferol dapat langsung bekerja pada oxyradicals, dan karenanya berfungsi sebagai antioksidan pemecah rantai yang penting.

Asam askorbat (vitamin C):

Ini adalah vitamin yang berpartisipasi dalam banyak reaksi metabolisme normal tubuh. Asam askorbat adalah antioksidan penting yang larut dalam air dalam cairan biologis.
Vitamin C secara efisien membersihkan radikal bebas dan menghambat peroksidasi lipid. Ini juga mempromosikan regenerasi α-tokoferol (dari radikal α-tokoferoksil yang dihasilkan selama pembilasan ROS).

Karotenoid:

Ini adalah senyawa alami dengan sifat lipofilik. Sekitar 500 karoten yang berbeda telah diidentifikasi, di antaranya, β-karoten adalah yang paling penting. Ini dapat bertindak sebagai antioksidan di bawah tekanan parsial rendah 02. β-Karoten biasanya berfungsi bersama vitamin C dan E. Lycopene, pigmen yang larut dalam lemak adalah karotenoid.
Ini bertanggung jawab atas warna buah dan sayuran tertentu (mis. Tomat).

Likopen memiliki sifat antioksidan.

Lutein dan zeaxanthin juga merupakan pigmen karotenoid yang memberikan warna kuning atau hijau untuk buah-buahan dan sayuran. Pigmen ini juga bisa berfungsi sebagai antioksidan.

Selenium:

Ini adalah elemen pelacak yang penting dan terbukti sebagai antioksidan yang signifikan. Selenium bekerja dengan vitamin E dalam memerangi radikal bebas. Ini juga diperlukan untuk fungsi enzim antioksidan penting, yaitu glutathione peroksidase.

Asam α-Lipoat:

Ini adalah senyawa seperti vitamin yang diproduksi dalam tubuh, selain pasokan dari sumber tumbuhan dan hewan. Asam α-Lipoat memainkan peran penting dalam mendaur ulang antioksidan penting lainnya seperti asam askorbat, α-tokoferol, dan glutathione.

Kafein:

Kopi mengandung flavonoid yang bersifat antioksidan. Studi terbaru menunjukkan bahwa kafein dapat langsung bertindak sebagai antioksidan.

Selain di atas, ada banyak antioksidan nutrisi penting lainnya, beberapa di antaranya tercantum di bawah ini

  • Koenzim Q10 dari keluarga ubiquinone
  • Proanthocyanidins dari biji anggur
  • Katekin teh hijau
  • Kurkuminoid kunyit
  • Kuersetin bawang

Beberapa antioksidan nutrisi penting dan sumber makanannya diberikan.

  • Vitamin E (tokoferol): Minyak nabati yang tidak diolah (minyak biji kapas, minyak kacang, minyak bunga matahari) biji-bijian, sayuran berdaun, kacang-kacangan
  • Vitamin C (asam askorbat): Buah jeruk (jeruk, anggur) gooseberry (amla), jambu biji, sayuran hijau (kol, bayam), kembang kol, melon, melon
  • β-Karoten (provitamin A): Wortel, buah hijau, dan sayuran, bayam, lobak, aprikot.
  • Lycopene: Tomat / dan produknya (saus tomat), pepaya, jambu merah muda, semangka.
  • Lutein dan zeaxanthin: Kuning telur, buah-buahan, sayuran berdaun hijau, jagung, kacang polong hijau.
  • Selenium: Makanan laut, daging, daging organ, biji-bijian
  • α-Lipoic acid: Daging merah, hati, ragi
  • Koenzim Q10: Daging organ (hati terbaik), daging sapi, ayam.
  • N-Acetylcysteine: Tersedia sebagai suplemen atau obat.
  • Proanthocyanidins: Biji anggur
  • Katekin: Teh hijau
  • Curcuminoids: Kunyit
  • Quercetin: Bawang, anggur merah, teh hijau
  • Asam ellagic: Berry, kenari, delima
  • Hesperidin: Buah jeruk (jeruk), lemon.

Konsumsi berbagai antioksidan nutrisi penting, karena masing-masing antioksidan menargetkan jenis tertentu atau merusak radikal bebas.

Antioksidan metabolik

Glutathione:

  • Reduced glutathione (GSH) memainkan peran penting dalam sistem enzim antioksidan biologis.
  • GSH dan H202 adalah substrat kembar untuk glutathione peroksidase.
  • Glutathione tereduksi (GSH) diregenerasi dari glutathion teroksidasi (GS-SG) melalui partisipasi glutathione reductase dan NADPH.
  • Disarankan bahwa kemampuan untuk mensintesis GSH berkurang dengan bertambahnya usia, dan ini telah terlibat dalam penyakit tertentu mis. katarak.

Ada banyak antioksidan metabolik yang lebih penting secara biologis, beberapa dari mereka terdaftar di bawah ini

  • Asam urat: pemulung oksigen singlet dan OH- yang kuat
  • Ceruloplasmin: menghambat peroksidasi lipid yang bergantung pada besi dan tembaga.
  • Transferrin: berikatan dengan besi dan mencegah pembentukan radikal bebas yang dikatalisasi oleh besi.
  • Albumin: dapat mengais radikal bebas yang terbentuk di permukaannya.
  • Bilirubin: melindungi asam lemak bebas terikat albumin dari peroksidasi.
  • Haptoglobin: berikatan dengan hemoglobin bebas dan mencegah percepatan peroksidasi lipid.


Secara umum, cisterna adalah reservoir atau tangki untuk menyimpan air, terutama tangki untuk menampung air hujan untuk digunakan nanti. Dalam konteks biologis, sisterna mengacu pada cairan yang mengandung cakram dan membentuk aparatus Golgi dan retikulum endoplasma. Dalam anatomi, sisterna juga dapat merujuk pada ruang yang diisi dengan cairan tubuh. Namun, lebih sering disebut sebagai sumur (juga, reservoir).

Sisterna Dalam biologi sel

Sisterna mengacu pada cakram datar dari retikulum endoplasma dan aparatus Golgi. Retikulum endoplasma adalah organel yang terjadi sebagai jaringan yang saling berhubungan dari kantung atau tubulus pipih yang disebut sisterna (cisternae) dalam sitoplasma. Demikian pula, aparatus Golgi terdiri dari tumpukan terikat membran yang disebut cisternae. Namun, membran RE terhubung ke selaput nukleus luar dan juga dapat meluas ke membran sel.

Ada dua jenis RE, yaitu retikulum endoplasma kasar atau rER, dan retikulum endoplasma halus atau sER. Perbedaannya terletak pada ada atau tidak adanya ribosom. RER menanggung banyak ribosom pada permukaan luarnya sehingga memberikan penampilan yang kasar; karenanya, namanya begitu. Sebaliknya, sER tidak memiliki ribosom yang melekat pada permukaan luarnya sehingga membuatnya relatif lebih halus.

RER berlimpah di hepatosit sedangkan sER berlimpah di hati mamalia dan sel gonad. Karena rER memiliki ribosom yang melekat pada permukaannya, maka rER terlibat dalam sintesis protein dan pelipat protein, serta pengalihan protein ke aparatus Golgi di mana protein yang baru lahir mengalami pematangan. Ini mensintesis dan mengeluarkan protein serum (seperti albumin) di hati, dan hormon (seperti insulin) dan zat lain (seperti susu) di kelenjar.

RER juga terlibat dalam pembuatan enzim lisosom (di mana penanda, mannose-6-fosfat, kemudian ditambahkan dalam peralatan Golgi). Ini juga di mana protein membran integral tertentu terbentuk. Glikosilasi terkait-N juga terjadi di sini (Glikosilasi-O terjadi di Golgi). SER, di sisi lain, tidak memiliki ribosom di permukaannya. Fungsinya meliputi sintesis lipid, metabolisme karbohidrat (yaitu konversi glukosa-6-fosfat menjadi glukosa selama glukogenesis melalui enzim sER glukosa-6-fosfatase) dan konsentrasi kalsium, detoksifikasi obat, dan perlekatan reseptor pada protein membran sel. Ini juga terlibat dalam transportasi intraseluler, seperti pengangkutan produk rER ke bagian sel lain seperti badan Golgi. Jenis khusus RE cisternae adalah sistena ternimal. Sisterna terminal adalah area yang diperbesar dari retikulum sarkoplasma. Retikulum sarkoplasma adalah tipe khusus sER dan ditemukan dalam miosit (sel otot). Retikulum sarkoplasma ini terlibat dalam penyerapan, penyimpanan, dan pelepasan ion kalsium. Cisternae terminal adalah daerah aktivitas ion kalsium yang intens (yaitu pengambilan dan pelepasan).

Aparat Golgi adalah organel yang diidentifikasi pada tahun 1898 oleh dokter Italia Camilo Golgi. Tumpukan Golgi dapat terdiri dari sekitar tiga hingga dua puluh cisternae. Namun biasanya, ada sekitar enam cisternae yang membentuk Golgi. Cisternae Golgi dapat dikelompokkan menjadi empat: jaringan cis, trans, medial, dan trans-Golgi. Dengan demikian, keempat jenis ini mengandung enzim yang berbeda dan karenanya terlibat dalam aktivitas enzimatik yang berbeda.

Fungsi utama Golgi adalah glikosilasi (yaitu menambahkan karbohidrat ke protein), mengemas molekul seperti protein menjadi vesikel untuk sekresi, pengangkutan lipid di sekitar sel, dan penciptaan lisosom. Berkenaan dengan fungsi sebagai pusat pengemasan sel, organel mengurutkan protein yang disekresikan oleh retikulum endoplasma ke dalam paket untuk dikirim ke tujuan yang sesuai. Aparatus Golgi dapat memodifikasi protein dengan menambahkan gula untuk menghasilkan glikoprotein melalui glikosilasi. Glikoprotein yang terikat untuk diangkut ke luar sel akan diekskresikan sebagai vesikel. Jika glikoprotein akan digunakan nanti, dapat disimpan dalam vesikel di dalam sel (mis. Sebagai lisosom).