Tag: Kambium

Pada batang Monokotil, epidermis terdiri dari satu lapis sel, batas antara korteks dan stele umumnya tidak jelas. Pada stele monokotil terdapat ikatan pembuluh yang menyebar dan bertipe kolateral tertutup yang artinya di antara xilem dan floem tidak ditemukan kambium. Tidak adanya kambium pada Monokotil menyebabkan batang Monokotil tidak dapat tumbuh membesar, dengan perkataan lain tidak terjadi pertumbuhan menebal sekunder. Meskipun demikian, ada Monokotil yang dapat mengadakan pertumbuhan menebal sekunder, misalnya pada pohon Hanjuang (Cordyline sp) dan pohon Nenas seberang (Agave sp) (Hidayat. 1996)


Tumbuhan berbiji terbuka (Gymnospermae) mempunyai ciri-ciri sebagai berikut.

  • 1. Berbiji terbuka karena bijinya tidak dibungkus oleh daun buah.
  • 2. Alat reproduksi berupa bangun seperti kerucut yang disebut strobilus. Ada dua strobilus, yaitu strobilus jantan dan betina.
  • 3. Batang besar dan berkambium.
  • 4. Berakar tunggang dan serabut.
  • 5. Daun selalu hijau, sempit, tebal, dan kaku. Contoh tumbuhan berbiji terbuka adalah juniper, cemara, damar, pinus, melinjo, dan pakis haji.

Tumbuhan berbiji tertutup (Angiospermae) mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
Angiospermae memiliki bakal biji atau bijinya terlindungi oleh daun buah (carpels). Daun buah dikelilingi oleh alat khusus yang membentuk struktur pembiakan yang disebut bunga. Contoh tumbuhan berbiji tertutup adalah mangga, jambu, avokad, anggur, dan nangka.


Pertumbuhan primer adalah pertumbuahn dasar yang bisa terjadi disebabkan oleh aktivitas pembelahan sel pada jaringan meristem. Pertumbuhan sekunder adalah pertumbuhan yang disebabkan adanya aktivitas jaringan meristem sekunder yang ada pada tumbuhan. 

Perbedaan Pertumbuhan Primer dan Sekunder
Pembeda Pertumbuhan Primer Pertumbuhan Sekunder
Definisi Pertumbuhan primer adalah pertumbuhan yang terjadi dari aksi meristem utama, yang dapat meningkatkan panjang batang dan menambahkan pelengkap ke batang. Pertumbuhan sekunder adalah pertumbuhan yang terjadi dari aksi kambium, yang dapat meningkatkan diameter tanaman.
Hasil Pertumbuhan Menghasilkan tumbuhan dalam sumbu longitudinal (menambah tinggi atau panjang tanaman). Menghasilkan pertumbuhan radial (menambah diameter atau keliling batang tanaman).
Terjadi oleh Aksi meristem apikal. Aksi meristem lateral.
Urutan Tanaman terjadi di awal. Mengikuti pertumbuhan primer.
Tempat Terjadinya Terjadi di semua bagian dari tanaman (meristem primer). Terjadi pada angiospermae dan gymnospermae kecuali monokotil (meristem sekunder).
Waktu Berhenti setelah selesainya diferensiasi jaringan. Hanya terjadi di bagian yang matang (bagian yang memang benar – benar dikembangkan).
Pengembangan Epidermis, korteks, dan jaringan vaskular primer yang dikembangkan selama pertumbuhan primer. Periderm, floem sekunder, xylem sekunder, lentisels, dan kulit kayu yang dikembangkan selama pertumbuhan sekunder.


Pada batang dikotil terdapat lapisan-lapisan dari luar kedalam:

a. Epidermis Terdiri atas selaput sel yang tersusun rapat, tidak mempunyai ruang antar sel. Fungsi epidermis untuk melindungi jaringan di bawahnya. Pada batang yang mengalami pertumbuhan sekunder, lapisan epidermis digantikan oleh lapisan gabus yang dibentuk dari kambium gabus (fah. 1991)

b. Korteks, Korteks batang disebut juga kulit pertama, terdiri dari beberapa lapis sel, yang dekat dengan lapisan epidermis tersusun atas jaringan kolenkim, makin ke dalam tersusun atas jaringan parenkim.

c. Endodermis, Endodermis batang disebut juga kulit dalam, tersusun atas selapis sel, merupakan lapisan pemisah antara korteks dengan stele. Endodermis tumbuhan Anguiospermae mengandung zat tepung, tetapi tidak terdapat pada endodermis tumbuhan Gymnospermae.

d. Stele/ Silinder Pusat Merupakan lapisan terdalam dari batang. Lapis terluar dari stele disebut perisikel atau perikambium. lkatan pembuluh pada stele disebut tipe kolateral yang artinya xilem dan floem. Letak saling bersisian, xilem di sebelah dalam dan floem sebelah luar. Antara xilem dan floem terdapat kambium intravasikuler, pada perkembangan selanjutnya jaringan parenkim yang terdapat di antara berkas pembuluh angkut juga berubah menjadi kambium, yang disebut kambium intervasikuler. Keduanya dapat mengadakan pertumbuhan sekunder yang mengakibatkan bertambah besarnya diameter batang. Pada tumbuhan Dikotil, berkayu keras dan hidupnya menahun, pertumbuhan menebal sekunder tidak berlangsung terus-menerus, tetapi hanya pada saat air dan zat hara tersedia cukup, sedang pada musim kering tidak terjadi pertumbuhan sehingga pertumbuhan menebalnya pada batang tampak berlapis-lapis, setiap lapis menunjukkan aktivitas pertumbuhan selama satu tahun, lapis-lapis lingkaran tersebut dinamakan Lingkaran Tahun (Fahn. 1991)


Batang adalah satu bagian terpenting bagi tumbuhan, srtuktur batang tumbuhan pembuluh sangat bervariasi. Batang berperan untuk mendukung bagian tumbuhan di atas tanah, selain itu juga sebagai alat transportasi yaitu jalan pengangkutan air dan zat makanan dari akarke daun dan jalan pengangkutan hasil asimilasi dari daun ke bagian lain, baik ada yang di bawah maupun di atas tanah (Savitri, 2008).

Batang

Batang merupakan sumbu dengan daun yang melekat padanya. Batang berperan untuk mendukung bagian tumbuhan di atas tanah, selain itu juga sebagai alat transportasi yaitu jalan pengangkutan air dan zat makanan dari akarke daun dan jalan pengangkutan hasil asimilasi dari daun ke bagian lain, baik ada yang di bawah maupun di atas tanah (Savitri, 2008).

Pada dasarnya pada irisan melintang batang akan tampak tiga daerah pokok atau tiga sistem jaringan yaitu (Savitri, 2008) :

1. Epidermis

Jaringan ini terdiri dari selapis sel yang menyelubungi batang dan sering kali ditutupi oleh kutikula. Pada beberapa jenis tumbuhan, epidermis dapat lebih dari satu lapis sel (epidermis ganda dan multiple epidermis) (Iserep. 1993).

2. Korteks

Korteks merupakan daerah diantara epidermis dan silinder pembuluh paling luar. Korteks batang sebagian besar terdiri dari parenkim yang dapat berisi kloroplas (Hidayat. 1996)

3. Stele (Silinder Pusat)

Pada batang tumbuhan dikotil, stele tersusun atas perisikel (perikambium), berkas pengangkut dan empulur. Tipe stele yang dikenal dapat dibagi menjadi dua kelompok dasar yaitu protostele dengan sumbu xylem padat tanpa empulur, dikelilingi floem dan sifonostele dengan xylem tidak padat, melainkan memiliki silender parenkim di tengah (Fahn. 1991).

Jaringan Batang

1. Batang Dikotil

Pada batang dikotil terdapat lapisan-lapisan dari luar kedalam:

a. Epidermis Terdiri atas selaput sel yang tersusun rapat, tidak mempunyai ruang antar sel. Fungsi epidermis untuk melindungi jaringan di bawahnya. Pada batang yang mengalami pertumbuhan sekunder, lapisan epidermis digantikan oleh lapisan gabus yang dibentuk dari kambium gabus (fah. 1991)

b. Korteks, Korteks batang disebut juga kulit pertama, terdiri dari beberapa lapis sel, yang dekat dengan lapisan epidermis tersusun atas jaringan kolenkim, makin ke dalam tersusun atas jaringan parenkim.

c. Endodermis, Endodermis batang disebut juga kulit dalam, tersusun atas selapis sel, merupakan lapisan pemisah antara korteks dengan stele. Endodermis tumbuhan Anguiospermae mengandung zat tepung, tetapi tidak terdapat pada endodermis tumbuhan Gymnospermae.

d. Stele/ Silinder Pusat Merupakan lapisan terdalam dari batang. Lapis terluar dari stele disebut perisikel atau perikambium. lkatan pembuluh pada stele disebut tipe kolateral yang artinya xilem dan floem. Letak saling bersisian, xilem di sebelah dalam dan floem sebelah luar. Antara xilem dan floem terdapat kambium intravasikuler, pada perkembangan selanjutnya jaringan parenkim yang terdapat di antara berkas pembuluh angkut juga berubah menjadi kambium, yang disebut kambium intervasikuler. Keduanya dapat mengadakan pertumbuhan sekunder yang mengakibatkan bertambah besarnya diameter batang. Pada tumbuhan Dikotil, berkayu keras dan hidupnya menahun, pertumbuhan menebal sekunder tidak berlangsung terus-menerus, tetapi hanya pada saat air dan zat hara tersedia cukup, sedang pada musim kering tidak terjadi pertumbuhan sehingga pertumbuhan menebalnya pada batang tampak berlapis-lapis, setiap lapis menunjukkan aktivitas pertumbuhan selama satu tahun, lapis-lapis lingkaran tersebut dinamakan Lingkaran Tahun (Fahn. 1991)

2. Batang Monokotil

Pada batang Monokotil, epidermis terdiri dari satu lapis sel, batas antara korteks dan stele umumnya tidak jelas. Pada stele monokotil terdapat ikatan pembuluh yang menyebar dan bertipe kolateral tertutup yang artinya di antara xilem dan floem tidak ditemukan kambium. Tidak adanya kambium pada Monokotil menyebabkan batang Monokotil tidak dapat tumbuh membesar, dengan perkataan lain tidak terjadi pertumbuhan menebal sekunder. Meskipun demikian, ada Monokotil yang dapat mengadakan pertumbuhan menebal sekunder, misalnya pada pohon Hanjuang (Cordyline sp) dan pohon Nenas seberang (Agave sp) (Hidayat. 1996)


Makhluk hidup mengacu pada organisme apa pun yang menunjukkan karakteristik hidup. Apa yang memisahkan makhluk hidup dari makhluk tak hidup adalah karakteristik berikut:

Makhluk hidup adalah struktur yang teratur.

Ini dapat berupa sel tunggal seperti sel bakteri, atau multiseluler seperti hewan dan tumbuhan yang terdiri dari beberapa sel. Sel adalah unit biologis dasar suatu organisme. Berbagai proses seluler dilakukan oleh sel dengan cara yang terencana dan tersistematisasi. Sel terdiri dari protoplasma yang dikelilingi oleh membran plasma. Struktur sitoplasmik (mis. Organel), masing-masing dengan peran dan fungsi tertentu, tertanam dalam sitosol sel.

Makhluk hidup membutuhkan energi untuk bertahan hidup.

Energi sangat penting karena memicu berbagai aktivitas metabolisme sel. Salah satu cara organisme mensintesis energi adalah dengan fotosintesis di mana energi cahaya diubah menjadi energi kimia. Yang lain adalah melalui respirasi seluler di mana energi biokimia dipanen dari zat organik (mis. Glukosa) dan, kemudian, disimpan dalam biomolekul pembawa energi seperti ATP untuk digunakan nanti.

Makhluk hidup mampu bereproduksi.

Ada dua cara dimana makhluk hidup dapat mereproduksi salinan dirinya: reproduksi seksual dan reproduksi aseksual. Dalam reproduksi seksual, sel-sel kelamin laki-laki dan perempuan dari kedua orang tua bersatu dan membentuk zigot yang pada akhirnya akan berkembang menjadi makhluk jenis mereka sendiri. Sebaliknya, reproduksi aseksual adalah mode reproduksi yang tidak melibatkan sel-sel kelamin. Keturunannya hanya berasal dari satu orangtua. Contohnya termasuk pembelahan biner, tunas, perbanyakan vegetatif, sporogenesis, fragmentasi, partenogenesis, apomixis, dan embrioni nucellar.

Makhluk hidup dapat tumbuh berkembang.

Pada tingkat seluler, pertumbuhan dapat merujuk pada peningkatan jumlah atau peningkatan ukuran. Peningkatan jumlah sel melalui pembelahan sel. Sel-sel induk hewan dan sel-sel meristematik tumbuhan membelah untuk memunculkan sel-sel baru. Adapun peningkatan ukuran sel, sering dikaitkan dengan peningkatan massa sitoplasma. Sel mengalami serangkaian fase dalam siklus sel.

Sebagian besar waktu, sel baru yang diproduksi oleh mitosis mengalami interfase. Ini adalah fase dalam siklus sel di mana sel tumbuh dalam ukuran. Kecuali jika sepenuhnya terdiferensiasi, sel dapat mereplikasi DNA-nya untuk mempersiapkan pembelahan sel berikutnya. Pada tanaman, sel-sel baru meningkatkan volumenya dengan mengambil dan menyimpan air di dalam vakuola. Beberapa sel tanaman menumbuhkan dinding sel sekunder antara dinding sel primer dan membran plasma.

Pada tingkat jaringan, pertumbuhan tanaman vaskular terdiri dari dua jenis: primer dan sekunder. Pertumbuhan primer memerlukan pertumbuhan vertikal dengan xilem primer terbentuk dari prokambium sedangkan pertumbuhan sekunder dikaitkan dengan pertumbuhan lateral yang disebabkan oleh pembentukan xilem sekunder dari kambium vaskuler.

Dalam bentuk hewan tingkat tinggi, pertumbuhan jaringan mengikuti pola dan ditentukan secara genetis. Kapasitas regenerasi tidak terbatas seperti pada tanaman. Tingkat regenerasi bervariasi di antara spesies. Misalnya, salamander dapat meregenerasi mata baru atau anggota tubuh baru sedangkan manusia tidak bisa. Namun demikian, manusia juga mampu meregenerasi bagian-bagian tertentu dari tubuh mereka, seperti kulit dan bagian hati.

Makhluk hidup memetabolisme.

Metabolisme mengacu pada berbagai proses yang bertanggung jawab untuk menjaga keadaan hidup sel atau organisme. Contoh dari mereka yang terlibat dalam pertumbuhan sel, respirasi, reproduksi, respons terhadap rangsangan, rezeki, sintesis biomolekul, eliminasi limbah, dan proses homeostatis lainnya. Ada dua bentuk metabolisme: katabolisme dan anabolisme. Dalam katabolisme, makhluk hidup melakukan reaksi kimia degradatif yang mengarah pada pemecahan molekul kompleks menjadi unit yang lebih kecil dan memperoleh energi yang dilepaskan dari proses. Dalam anabolisme, reaksi kimia berbasis energi membangun molekul dari unit yang lebih kecil.

Makhluk hidup merespons rangsangan dan beradaptasi dengan perubahan lingkungan.

Itu dapat mendeteksi perubahan di lingkungan, terutama oleh sel-sel yang berfungsi sebagai reseptor. Misalnya, manusia memiliki lima indera mendasar: penglihatan, pendengaran, penciuman, sentuhan, dan rasa. Indera lain adalah indera vestibular (mendeteksi gerakan tubuh, arah, dan percepatan), indera termoksi, indera kinestetik (mendeteksi posisi bagian tubuh), indera internal (interoception), dan sebagainya. Selain mendeteksi perubahan di sekitarnya, ia juga dapat beradaptasi dengan perubahan ini.

Makhluk hidup bergerak.

Karena makhluk hidup dapat mendeteksi rangsangan dari lingkungannya, ia dapat merespons sesuai dengannya. Sebagai contoh, hewan bergerak mencari makan, melarikan diri dari pemangsa, dan mencari pasangan potensial. Sementara hewan dapat bergerak sesuka hati, tanaman memiliki bentuk gerakan yang agak terbatas, disebut sebagai gerakan nasti (mis. Thigmonasty, nyctinasty).

Makhluk hidup bisa mati.

Makhluk hidup memiliki kehidupan dan akhirnya hidup ini berakhir. Senescence mengacu pada penuaan biologis. Itu adalah ketika makhluk hidup berangsur-angsur memburuk selama hidupnya. Organisme secara bertahap kehilangan kemampuannya untuk berfungsi dan mengatasi stresor. Karena itu, ia menjadi lebih rentan terhadap penyakit dan disfungsi. Pada tingkat sel, sel tidak lagi membelah meskipun mungkin masih aktif secara metabolik. Salah satu penyebab alami penuaan seluler adalah pemendekan telomer yang menyebabkan kerusakan DNA. Sebaliknya, beberapa makhluk hidup dianggap abadi karena mereka tampaknya menghindari kematian. Contohnya termasuk ubur-ubur Turritopsis doohmii yang dapat membalikkan usia, cacing pipih yang mengalami regenerasi, dan tardigrades yang tampaknya tidak dapat dihancurkan.