Gejala Cairan di Paru-paru

Gagal jantung kongestif adalah salah satu faktor penyebab umum terjadinya edema paru, yaitu kondisi medis yang ditandai dengan adanya cairan di dalam paru-paru. Artikel Ini ini mencantumkan penyebab dan gejala cairan di paru-paru.

Edema paru mengacu pada kondisi medis di mana cairan didorong ke dalam kantung alveolar, yang merupakan kantung udara kecil di paru-paru di mana pertukaran oksigen dan karbon dioksida terjadi. Sebagai akibat dari akumulasi cairan di dalam paru-paru, kemampuan seseorang untuk bernapas akan terpengaruh. Lebih sering daripada tidak, edema paru disebabkan karena gagal jantung kongestif, suatu kondisi jantung di mana jantung tidak dapat memompa cukup darah ke seluruh tubuh. Edema paru tidak boleh disalahartikan sebagai efusi pleura, yang merupakan kondisi di mana cairan menumpuk di sekitar paru-paru. Bagian berikut memberikan informasi tentang penyebab dan gejala cairan di paru-paru.

Gejala Edema Paru

Ketika cairan tiba-tiba menumpuk di paru-paru, seseorang didiagnosis dengan edema paru akut. Ini adalah kondisi medis serius yang dapat terbukti mengancam jiwa tanpa adanya pengobatan. Gejalanya meliputi:

âΕΎΕΎ Dispnea (sesak napas)
â Dispnea saat beraktivitasâ Orthopnea (sesak napas saat berbaring)â Gelisah atau cemasâ Rasa sesak napas
â Napas cepatâ Mengiâ Suara gemericik saat bernapasâ Udara lapar atau terengah-engahâ Dahak berlumuran darahâ Lemah jantung, detak jantung tidak teraturâ atau kelelahanâ Kulit pucatâ Keringat berlebihanâNyeri dada (jika edema paru disebabkan oleh masalah jantung)

Pejalan kaki atau pemain ski rentan terhadap edema paru ketinggian, yang biasanya terjadi di atas 8.000 kaki. Kondisi ini mungkin ditandai dengan gejala seperti dispnea setelah aktivitas. Kadang-kadang, sesak napas mungkin dialami saat beristirahat. Batuk, sakit kepala, demam, jantung berdebar, sulit bergerak menanjak, dahak berbusa bercampur darah, atau nyeri dada adalah gejala lain yang mungkin dialami.

Dalam kasus edema paru kronis, individu yang terkena mungkin mengalami pembengkakan karena retensi cairan di ekstremitas. Ini biasanya terjadi pada kasus individu yang terkena gagal jantung kongestif. Juga, pasien mungkin terbangun di malam hari karena sensasi sesak napas. Sensasi biasanya hilang dengan mengubah dari berbaring ke posisi duduk. Selain itu, dispnea, mengi, dan kelelahan juga dialami.

Edema Paru dan Gagal Jantung

Jantung manusia adalah organ berotot yang terdiri dari empat ruang. Ruang atas disebut sebagai atrium kanan dan atrium kiri, sedangkan ruang bawah disebut ventrikel kanan dan ventrikel kiri. Sementara atrium menerima darah, fungsi memompa darah ke bagian lain dari tubuh dilakukan oleh ventrikel kiri. Mari kita cari tahu bagaimana jantung bekerja.

Darah terdeoksigenasi bergerak ke atrium kanan. Setelah itu, ia bergerak melalui katup trikuspid ke ventrikel kanan. Dari sana, ia dipompa melalui arteri pulmonalis ke paru-paru, di mana ia mendapat oksigen. Vena pulmonalis membawa darah teroksigenasi ke atrium kiri. Katup mitral yang terletak di antara atrium kiri dan ventrikel kiri terbuka untuk memungkinkan darah mengalir ke ventrikel kiri. Katup menutup untuk mencegah aliran balik darah ke atrium kiri. Darah beroksigen kemudian dibawa oleh aorta ke berbagai bagian tubuh.

Jika ventrikel kiri tidak mampu memompa darah dengan baik karena kerusakan otot jantung (kardiomiopati), penyakit arteri koroner (pengerasan atau penyempitan pembuluh darah karena timbunan kolesterol), atau aliran balik darah ke atrium kiri karena adanya katup. cacat, atrium kiri bisa berada di bawah tekanan. Akibatnya, cairan dapat kembali ke paru-paru. Setelah itu, kantung alveolus dapat terisi dengan darah. Ini memiliki efek buruk pada pertukaran oksigen dan karbon dioksida, yang pada gilirannya menyebabkan sesak napas.

Selain faktor kardiogenik, edema paru juga dapat dikaitkan dengan kondisi non-kardiogenik seperti paparan atau inhalasi racun, sindrom gangguan pernapasan akut, infeksi pernapasan, emboli paru, reaksi merugikan terhadap obat tertentu, cedera paru, edema paru neurogenik, atau ketika satu hampir tenggelam.

Sebagai kesimpulan, edema paru bisa menjadi tanda gagal jantung kongestif atau kondisi medis serius lainnya. Oleh karena itu, bantuan medis harus dicari oleh mereka yang mengalami gejala-gejala tersebut di atas. Rontgen dada, oksimetri nadi, EKG, tes darah, dan pemeriksaan suara paru-paru, dll., adalah beberapa tes yang dapat membantu mendiagnosis kondisi ini. Bunyi paru-paru yang tidak normal seperti bubbling terputus-putus, berderak, atau bunyi klik bisa menjadi indikasi edema paru.

Penafian : Informasi yang diberikan dalam artikel ini semata-mata untuk mendidik pembaca. Hal ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan nasihat ahli medis.

Related Posts