Kelesuan pada Anak

Kelesuan pada anak-anak adalah umum dan tidak memerlukan pengobatan dalam banyak kasus. Namun, anak menjadi lesu juga bisa disebabkan oleh penyakit seperti meningitis.

Banyak orang tua yang sering mengeluhkan anaknya yang lesu. Tapi apa yang dimaksud dengan kelesuan? Kelesuan pada anak-anak mengacu pada penurunan tingkat energi. Ini didefinisikan sebagai perasaan lelah dan lelah yang berkepanjangan. Anak-anak yang lesu berbaring dengan malas dan bahkan tidak mau bergerak untuk waktu yang lama. Perasaan lesu yang timbul dari tingkat energi yang lesu, kadang-kadang dikaitkan dengan penyakit serius dan bahkan gangguan psikologis. Meskipun orang dewasa lebih rentan terhadap kelesuan, anak-anak yang aktif juga mengalami perasaan ini.

Penyebab

Kurang Tidur: Anak yang kurang tidur seringkali merasa lesu sepanjang hari. Karena kurang tidur, anak mengalami kelelahan yang terus-menerus dan tidak dapat berkonsentrasi pada rutinitas hariannya. Perasaan lelah biasanya muncul pada anak-anak, ketika mereka kurang tidur. Oleh karena itu, tidur 7-8 jam sehari, diperlukan untuk melakukan aktivitas sehari-hari secara efisien dan untuk mencegah kelesuan. Gangguan tidur seperti insomnia dan sleep apnea juga bisa memicu perasaan lesu yang terus-menerus pada anak.

Malnutrisi: Anak-anak yang kekurangan gizi pasti akan menunjukkan tanda-tanda kelesuan. Anak-anak ini menunjukkan penurunan tingkat energi yang cukup besar. Karena tubuh tidak mendapatkan dosis harian protein, vitamin dan mineral, anak menunjukkan penurunan tajam dalam tingkat aktivitas siang hari. Hipoglikemia akibat gizi buruk juga dapat menyebabkan kelesuan pada anak

Anemia: Kondisi ini menyebabkan pengurangan besar dalam jumlah sel darah merah, yang mengantarkan oksigen ke berbagai organ tubuh. Sehingga, anemia menyebabkan kekurangan oksigen yang membuat anak lesu. Pola makan yang buruk, kekurangan zat besi, adalah faktor paling umum yang berkontribusi terhadap kelesuan pada bayi.

Demam: Demam dan lesu pada anak-anak sering kali berkorelasi. Demam pada anak umumnya terjadi karena infeksi virus seperti flu biasa dan flu musiman. Demam dengan suhu berkisar antara 101 hingga 103 F tidak serius, tetapi membuat anak tidak nyaman. Anak tidak responsif dan lebih menyukai interaksi verbal yang minimal. Namun, bayi berusia 6 minggu dan menderita demam tinggi (lebih dari 101) memerlukan perawatan segera karena merupakan gejala penyakit serius.

Depresi: Anak-anak yang menderita depresi juga perlahan mulai lesu. Meski depresi merupakan masalah mental, namun menguras energi, membuat anak semakin lesu. Perasaan lelah, disertai dengan serangan kecemasan, adalah beberapa gejala depresi. Bahkan berdiri untuk beberapa waktu tidak dapat ditoleransi oleh anak.

Stres: Dalam kompetisi yang ketat saat ini, anak-anak dapat terjebak dengan harapan yang tinggi dari orang tua. Tekanan orang tua untuk berprestasi baik dalam studi dan kegiatan ekstra kurikuler dapat membuat anak stres. Hal ini pun bisa membuat anak lamban dan tidak tertarik dengan aktivitas apapun.

Meningitis: Meningitis yang menyebabkan kelesuan ekstrim, terjadi pada sejumlah besar anak-anak. Meningitis, infeksi, menyebabkan peradangan pada selaput yang melindungi otak dan sumsum tulang belakang dari kerusakan eksternal. Anak-anak dengan meningitis mengalami sakit kepala, demam dan tidur lebih dari biasanya. Mereka menunjukkan kurangnya energi dan minat dalam kegiatan outdoor dan indoor.

Salah satu cara terbaik untuk mengobati dan mencegah kelesuan adalah dengan memantau pola makan anak Anda. Sebagai orang tua, Anda harus memastikan bahwa anak mendapatkan makanan yang sehat. Kebiasaan melewatkan sarapan atau mengemil makanan yang tidak sehat seringkali menyebabkan rendahnya tingkat energi pada anak. Perlu diingat bahwa sarapan dan makan siang adalah waktu makan yang paling penting dalam sehari. Jadi, awali hari anak Anda dengan sarapan yang menyediakan banyak protein dan karbohidrat. 2-3 potong roti gandum dengan selai kacang dioleskan di atasnya dan semangkuk sereal gandum juga merupakan pilihan yang baik untuk sarapan. Anak-anak juga bisa diberikan telur rebus dengan sedikit porsi ikan dan daging tanpa lemak saat sarapan. Pastikan anak Anda tidak pergi ke sekolah tanpa segelas susu. Sejauh makan siang dan makan malam dipertimbangkan, termasuk sayuran berdaun hijau dan buah-buahan adalah suatu keharusan. Tortilla gandum utuh dengan selada romaine dan sedikit almond memberikan nutrisi penting saat makan siang akan menjaga tingkat energi tetap tinggi sepanjang hari. Hindari menggoreng dan lebih fokus pada metode memasak yang sehat seperti mengukus, menggoreng, memanggang, dan memanggang.

Kelesuan pada Bayi

Kelesuan pada bayi tidak mudah didiagnosis. Namun, tidur lebih lama dari biasanya, atau merasa lelah bahkan setelah tidur siang yang lama, adalah tanda-tanda kelesuan pada bayi. Seseorang dapat menentukan apakah bayi lesu dengan memperhatikan perubahan perilakunya. Bayi lesu, juga disebut bayi lesu, tampak kurang antusias. Bayi tampak lesu dan mengantuk, yang bisa menjadi tanda penyakit serius seperti pneumonia.

Pada kesempatan yang jarang, kelelahan dan kelemahan yang terus-menerus pada anak-anak telah dikaitkan dengan masalah hati, disfungsi ginjal, dan gangguan tiroid seperti hipotiroidisme. Secara keseluruhan, dalam gaya hidup yang sibuk saat ini, mengalami kelelahan adalah hal yang wajar. Namun, kekurangan energi yang tidak biasa yang bertahan selama beberapa waktu membutuhkan perhatian medis yang tepat untuk mendiagnosis gejala yang terkait dengan kondisi ini.