Diagnosis Masalah Mata

Diagnosis masalah mata sebagian besar tergantung pada gejala masalah yang mendasarinya. Artikel ini memberikan beberapa informasi tentang hal yang sama yang mungkin terbukti bermanfaat.

Tujuan mendiagnosis masalah mata adalah untuk mengkonfirmasi masalah yang mendasarinya. Diagnosis awal terutama dilakukan berdasarkan penampilan mata dan gejala fisik terkait lainnya. Berbagai tes diperlukan untuk mengkonfirmasi hasil diagnosis awal. Perawatan dapat dimulai hanya ketika penyebabnya didiagnosis.

Diagnosa

Pembiasan

Refraksi adalah tes untuk mendiagnosis kesalahan pemfokusan. Gangguan penglihatan seperti rabun jauh, rabun jauh, astigmatisme, presbiopia, dll. dapat didiagnosis menggunakan tes ini. Tes ini terutama menentukan kejernihan penglihatan pada jarak 20 kaki. Misalnya, seseorang dengan penglihatan 20/200 melihat objek pada jarak 20 kaki sejelas orang dengan penglihatan sempurna 20/20, melihat pada jarak 200 kaki. Snellen chart adalah alat utama yang digunakan untuk menentukan ketajaman visual seseorang. Bagan ini terdiri dari deretan huruf yang diterangi, diatur dalam urutan yang aneh. Bagan perlu dibaca dari jarak standar untuk mengonfirmasi jenis kesalahan pemfokusan. Pembiasan otomatis dilakukan dengan mesin, yang mengukur respons mata ketika seberkas cahaya masuk ke mata.

Pengujian Bidang Visual

Pengujian bidang visual melibatkan mencari tahu ruang lingkup penglihatan orang tersebut, termasuk penglihatan tepi. Lingkup visual setiap mata ditentukan secara terpisah dalam tes ini. Tes ini mungkin sering menjadi bagian dari tes mata rutin. Namun, terkadang pengujian visual harus dilakukan secara mendetail, jika seseorang mengalami masalah bidang penglihatan yang aneh. Misalnya, jika seseorang terus menabrak benda yang berada di satu sisi, maka pengujian ini mungkin diperlukan untuk memastikan penyebabnya. Selanjutnya, ini dapat dilakukan secara manual serta menggunakan perangkat seperti jaringan Amsler atau perimeter Goldmann.

Oftalmoskopi

Oftalmoskop adalah perangkat genggam yang menyerupai senter kecil dengan lensa pembesar. Seberkas cahaya disinari langsung ke mata orang tersebut, sehingga dokter mata dapat mempelajari berbagai komponen seperti kornea, lensa, vitreous humor, retina, saraf optik, serta vena dan arteri retina. Seringkali obat tetes mata digunakan untuk melebarkan pupil, sehingga mendapatkan pandangan mata yang lebih baik. Seseorang mungkin mengalami beberapa efek samping dari obat tetes mata seperti penglihatan kabur dan kepekaan yang meningkat terhadap cahaya, selama beberapa jam. Selanjutnya, oftalmoskopi sering menjadi bagian dari pemeriksaan fisik rutin.

Elektroretinografi

Tes ini dilakukan untuk memeriksa fungsi fotoreseptor, yang merupakan sel penginderaan cahaya di mata. Elektroda perekam berupa lensa kontak ditempatkan pada kornea yang melebar. Elektroda lainnya terletak di suatu tempat di wajah, sebaiknya pipi. Ruangan menjadi gelap dan kilatan cahaya sering menyinari mata. Respon mata, dalam hal aktivitas listrik dicatat oleh elektroda. Metode ini paling efektif dalam mendiagnosis penyakit seperti retinitis pigmentosa.

Computed Tomography dan Magnetic Resonance Imaging

Tes ini memberikan gambar terkomputerisasi rinci dari struktur internal mata. Mereka efektif dalam menemukan benda asing di mata. Mereka juga berguna untuk mempelajari struktur tulang di sekitar mata.

Diagnosis yang akurat penting untuk pengobatan yang efektif. Seringkali, masalah ini tidak menimbulkan konsekuensi serius, tetapi selalu lebih bijaksana untuk memeriksakan diri secara rutin, untuk mendeteksi dan memperbaiki masalah tersebut tepat waktu dan juga untuk menyingkirkan kemungkinan komplikasi lebih lanjut.

Penafian : Artikel Ini ini hanya untuk tujuan informatif, dan tidak boleh digunakan sebagai pengganti saran medis ahli.