Apa itu Rekonstruksi TKP?

Rekonstruksi TKP dapat dilakukan dengan berbagai cara.

Rekonstruksi TKP adalah teknik yang digunakan dalam komunitas penegak hukum untuk mengumpulkan lebih banyak informasi tentang kejahatan tertentu, seperti perampokan, dan peristiwa kriminal, seperti tindakan terorisme. Rekonstruksi tersebut digunakan untuk membantu penyidik ​​dalam menginterpretasikan dan menggali bukti, dan juga dapat digunakan dalam profiling calon penjahat, serta penuntutan kasus di pengadilan. Ada berbagai tingkat kedalaman dan kompleksitas rekonstruksi TKP, mulai dari percakapan biasa di antara sekelompok penyelidik hingga caral komputer kompleks yang dapat digunakan di ruang sidang.

Penyelidik forensik berjalan melalui TKP, mengambil foto dan mencatat rincian.

Para penyelidik telah terlibat dalam rekonstruksi TKP selama berabad-abad, tetapi bidang itu benar-benar mulai meledak pada 1990-an, ketika mulai muncul sebagai teknik investigasi yang sah, dan organisasi profesional yang didedikasikan untuk rekonstruksi TKP didirikan. Dalam rekonstruksi, profesional forensik bekerja sama untuk memetakan tempat kejadian atau peristiwa, menentukan apa yang terjadi, bagaimana itu terjadi, kapan itu terjadi, dan di mana itu terjadi.

Rekonstruksi TKP melibatkan melihat bagaimana bukti tersebar.

Misalnya, ketika penyelidik forensik dipanggil ke tempat pembunuhan, mereka akan berjalan melalui tempat kejadian, mengambil foto, mencatat bukti, dan merasakan tempat kejadian. Mereka akan menggunakan data yang dikumpulkan bersama dengan informasi dari otopsi korban untuk memetakan tempat kejadian, membuat skenario yang mungkin untuk urutan kejadian. Dengan menggunakan skenario ini, penyelidik mungkin menemukan jalur pertanyaan yang efektif untuk tersangka, atau mereka dapat mengungkap petunjuk yang dapat digunakan untuk melacak tersangka.

Detektif akan mengunjungi TKP untuk mencoba dan melihat apa yang terjadi dan mengapa.

Berbagai kejahatan dapat diselidiki dengan menggunakan rekonstruksi TKP. Dalam semua kasus, rekonstruksi memadukan metode ilmiah, pengamatan tempat kejadian dan bukti, pengalaman dalam penyelidikan kriminal, dan pengumpulan data dari saksi dan penyidik. Penting juga untuk diingat bahwa rekonstruksi hanyalah penjelasan yang paling mungkin untuk peristiwa tersebut, belum tentu kebenaran empiris.

Mampu mengeksplorasi bukti dan memetakan skenario potensial bisa sangat berguna. Kadang-kadang informasi tidak mudah terlihat atau terbaca di TKP, tetapi menjadi terungkap saat penyelidik merekonstruksi TKP. Demikian juga, data yang dikumpulkan di tempat kejadian dan dari bukti dapat digunakan untuk mengesampingkan skenario potensial, atau memperkuat kemungkinan bahwa skenario tertentu sangat mungkin terjadi. Meskipun proses pembuatan rekonstruksi dapat memakan waktu, hal ini dapat menghemat waktu dan energi dalam jangka panjang dengan mengarahkan peneliti ke arah yang benar.