Lepuh Demam di Mulut

Luka dingin, yang juga disebut lepuh demam, berkembang di mulut karena Virus Herpes Simplex tipe 1. Artikel Ini ini memberikan informasi tentang faktor penyebab, gejala, dan pengobatan luka dingin.

Ada dua jenis Herpes Simplex Virus (HSV). Herpes Simplex Virus tipe-1 (HSV 1) adalah organisme penyebab untuk pengembangan luka dingin atau lepuh demam di mulut. Sementara HSV-1 sebagian besar menyebabkan herpes oral, Herpes Simplex Virus tipe-2 (HSV-2) bertanggung jawab menyebabkan herpes genital. Perlu dicatat bahwa kedua virus ini bisa menyebabkan lecet pada mulut atau alat kelamin. Herpes oral ditandai dengan pembentukan sekelompok lepuh di bibir dan di sekitar mulut. Virus ini dapat menyebar ke orang lain melalui kontak langsung. Jadi, mencium orang yang terinfeksi, menyentuh luka atau cairan yang terinfeksi, atau berbagi barang seperti peralatan atau pisau cukur, dapat menyebabkan penularan virus. Virus masuk ke dalam tubuh melalui luka di kulit sekitar atau di dalam mulut. Lebih dari 80% orang dapat terinfeksi virus ini, tetapi infeksi pertama/primer tidak menimbulkan gejala. Setelah itu, virus tetap tidak aktif (tidak aktif), dan dapat diaktifkan dari waktu ke waktu. Stres, penyakit, trauma pada bibir, paparan sinar matahari, dll., adalah beberapa faktor yang dapat memicu wabah.

Gejala

Infeksi Primer
Meskipun infeksi primer biasanya tidak menimbulkan gejala, anak-anak di bawah usia lima tahun dapat mengalami gejala seperti suhu tinggi, sakit kepala, gusi bengkak dan nyeri (gingivitis), dan lecet di dalam mulut (stomatitis). Pada orang dewasa, infeksi primer dapat menyebabkan sakit tenggorokan, amandel bengkak, demam, dan sakit kepala.

Gejala dapat dikategorikan berdasarkan stadium. Ini termasuk:

âž Rasa gatal dan kesemutan/perih dialami pada hari pertama dan kedua. Sensasi ini dialami di tempat di mana lepuh akhirnya akan muncul. Fase ini disebut juga dengan fase prodromal.

âž Sekelompok lepuh berisi cairan muncul pada hari kedua dan ketiga

âž Fase menangis ditandai dengan pecahnya lepuh dan pembentukan luka yang menyakitkan. Cairan merembes keluar. Harus diperhatikan bahwa kontak dengan cairan ini dapat menyebabkan penularan virus.

âž Pada fase pengerasan, lesi mengering, sehingga menyebabkan pembentukan keropeng dengan kerak kecoklatan.

âž Pada fase penyembuhan, keropeng mengelupas, sehingga membentuk koreng yang ukurannya lebih kecil. Setelah itu, lesi sembuh. Itu tidak meninggalkan bekas luka.

Pengobatan dan Tindakan Pencegahan

Infeksi berlangsung selama 10 sampai 14 hari. Meskipun tidak ada obat untuk herpes mulut, gejalanya dapat dikurangi dengan bantuan obat-obatan tertentu. Obat antivirus seperti penciclovir, famciclovir, valacyclovir, atau asiklovir diresepkan. Obat-obatan yang dijual bebas seperti Super Lysine, Herpecin-L Lip Balm, H-Balm, dan Viroxyn dapat digunakan. Kegunaan es juga akan membantu memberikan kelegaan. Anda juga bisa mengoleskan Vaseline pada bibir agar tetap lembap.

Juga, ikuti tindakan pencegahan ini:

â Stres dapat menyebabkan virus diaktifkan kembali. Jadi, latih teknik relaksasi untuk menghindari stres.

â Paparan sinar matahari juga dianggap sebagai pemicu. Jadi, kenakan tabir surya di wajah Anda dan oleskan lip balm saat keluar rumah. Dianjurkan untuk mengoleskan tabir surya atau lip balm dengan faktor perlindungan matahari atau 15 atau lebih.

â Hindari kontak fisik dengan orang yang sedang sakit flu. Jangan mencium seseorang yang sedang sakit flu, dan jangan melakukan oral seks jika Anda atau pasangan menderita herpes genital.

âž Jangan berbagi krim, obat-obatan, make-up atau benda apa pun, yang mungkin bersentuhan dengan area yang terinfeksi.

âž Gunakan sabun antibakteri untuk mencuci tangan. Juga, jangan sesekali menyentuh lepuh. Cuci tangan Anda setelah menyentuh lepuh.

â Menahan diri dari mengkonsumsi makanan yang asin, asam, atau pedas.

Ikuti langkah-langkah pencegahan yang disebutkan di atas, untuk mencegah wabah. Selain itu, hindari kontak fisik saat terjadi wabah, sehingga dapat mencegah penularan virus ke orang lain.

Penafian : Informasi yang diberikan dalam artikel ini semata-mata untuk mendidik pembaca. Hal ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan nasihat ahli medis.