Apa dampak tanam paksa bagi rakyat indonesia dan belanda

Pelaksanaan sistem tanam paksa mengakibatkan penderitaan berkepanjangan bagi rakyat negeri ini. Rakyat mengalami kesengsaraan dan kelaparan terutama di daerah Cirebon, Demak, dan Grobogan. Hal ini disebabkan karena rakyat tidak sempat mengerjakan sawah sehingga mengalami kegagalan panen. Sementara dilain sisi pemerintah Belanda memperoleh banyak keuntungan sehingga mengalami surplus keuangan.

a. Dampak tanam paksa bagi pemerintah kolonial Belanda
1) Pemerintah belanda memperoleh surplus keuangan yang dapat digunakan untuk menjalankan pemerintahan hindia belandad dan membangun negeri belanda
2) Badan usaha dagang belanda memperoleh keuntungan yang sangat besar setelah mendapatkan hak monopoli perdagangan pengangkutan hasil tanam paksa.

Graaf Johannes van den Bosch, pelopor Cultuurstelsel
Graaf Johannes van den Bosch, pelopor Cultuurstelsel

b. Dampak tanam paksa bagi rakyat
1) Banyak rakyat yang meninggal dan sakit terutama di cirebon, demak dan grobogan sehingga jumlah penduduk di pulau jawa makin berkurang
2) Penduduk indonesia mulai berbagai jenis tanaman bernilai ekspor seperti kopi, teh, kina, tembakau dan nila.

Berikut adalah isi dari aturan tanam paksa

  • Tuntutan kepada setiap rakyat Indonesia agar menyediakan tanah pertanian untuk cultuurstelsel tidak melebihi 20% atau seperlima bagian dari tanahnya untuk ditanami jenis tanaman perdagangan.
  • Pembebasan tanah yang disediakan untuk cultuurstelsel dari pajak, karena hasil tanamannya dianggap sebagai pembayaran pajak.
  • Rakyat yang tidak memiliki tanah pertanian dapat menggantinya dengan bekerja di perkebunan milik pemerintah Belanda atau di pabrik milik pemerintah Belanda selama 66 hari atau seperlima tahun.
  • Waktu untuk mengerjakan tanaman pada tanah pertanian untuk Culturstelsel tidak boleh melebihi waktu tanam padi atau kurang lebih 3 (tiga) bulan
  • Kelebihan hasil produksi pertanian dari ketentuan akan dikembalikan kepada rakyat
  • Kerusakan atau kerugian sebagai akibat gagal panen yang bukan karena kesalahan petani seperti bencana alam dan terserang hama, akan di tanggung pemerintah Belanda
  • Penyerahan teknik pelaksanaan aturan tanam paksa kepada kepala desa

Dampak tanam paksa bidang pertanian

Penanaman tanaman komoditi pendatang di Indonesia secara luas dimulai saat Cultuurstelsel. Kopi dan teh, yang awal mulanya cuma ditanam untuk kepentingan keindahan taman terasa dikembangkan secara luas. Tebu, yang merupakan tanaman asli, menjadi populer pula sehabis sebelumnya, terhadap era VOC, perkebunan cuma berkisar terhadap tanaman “tradisional” penghasil rempah-rempah layaknya lada, pala, dan cengkeh. Kepentingan peningkatan hasil dan kelaparan yang melanda Jawa akibat merosotnya mengolah beras menambah kesadaran pemerintah koloni dapat perlunya penelitian untuk menambah hasil komoditi pertanian, dan secara umum peningkatan kesejahteraan masyarakat lewat pertanian. Walaupun demikian, baru sehabis pelaksanaan UU Agraria 1870 aktivitas penelitian pertanian dijalankan secara serius.

Dampak tanam paksa bidang sosial

Dalam bidang pertanian, terutama didalam susunan agraris tidak mengakibatkan ada perbedaan antara majikan dan petani kecil penggarap sebagai budak, melainkan terjadinya homogenitas sosial dan ekonomi yang berprinsip terhadap pemerataan didalam jatah tanah. Ikatan antara masyarakat dan desanya makin lama kuat perihal ini malahan menghindar pertumbuhan desa itu sendiri. Hal ini berlangsung dikarenakan masyarakat lebih bahagia tinggal di desanya, mengakibatkan terjadinya keterbelakangan dan kurangnya wawasan untuk pertumbuhan kehidupan penduduknya.

Dampak tanam paksa bidang ekonomi

Dengan ada tanam paksa selanjutnya mengakibatkan pekerja mengenal sistem upah yang pada mulanya tidak dikenal oleh penduduk, mereka lebih tekankan sistem kerjasama dan gotong royong terutama kelihatan di kota-kota pelabuhan maupun di pabrik-pabrik gula. Dalam pelaksanaan tanam paksa, masyarakat desa diharuskan menyerahkan sebagian tanah pertaniannya untuk ditanami tanaman eksport, agar banyak berlangsung sewa menyewa tanah punya masyarakat bersama dengan pemerintah kolonial secara paksa. Dengan demikian hasil mengolah tanaman eksport bertambah,mengakibatkan perkebunan-perkebunan swasta tergiur untuk turut menguasai pertanian di Indonesia di sesudah itu hari.

Akibat lain berasal dari ada tanam paksa ini adalah munculnya “kerja rodi” yaitu suatu kerja paksa bagi masyarakat tanpa diberi upah yang layak, mengakibatkan bertambahnya kesengsaraan bagi pekerja. Kerja rodi oleh pemerintah kolonial berwujud pembangunan-pembangunan seperti; jalan-jalan raya, jembatan, waduk, rumah-rumah pesanggrahan untuk pegawai pemerintah kolonial, dan benteng-benteng untuk tentara kolonial. Di samping itu, masyarakat desa se daerah diwajibkan pelihara dan mengurus gedung-gedung pemerintah, mengangkut surat-surat, barang-barang dan sebagainya. Dengan demikian masyarakat dikerahkan laksanakan bermacam macam pekerjaan untuk kepentingan khusus pegawai-pegawai kolonial dan kepala-kepala desa itu sendiri.

Loading...