Sebutkan sumber sejarah berdasarkan sifat

Sumber sejarah adalah sesuatu yang secara langsung atau tidak langsung menyampaikan kepada kita tentang sesuatu kenyataan pada masa lalu. Suatu sumber sejarah mungkin merupakan suatu hasil aktivitas manusia yang memberikan informasi tentang kehidupan manusia. Bagi sejarawan, sumber sejarah ini merupakan alat, bukan tujuan akhir. Adanya sumber sejarah merupakan bukti dan fakta adanya kenyataan sejarah.

Dengan sumber sejarah inilah, sejarawan dapat mengetahui kenyataan sejarah. Tanpa adanya sumber, sejarawan tidak akan bisa berbicara apa-apa tentang masa lalu; begitu pula tanpa sentuhan sejarawan, sumber sejarah pun belum bisa banyak bicara apa-apa. Sumber sejarah sendiri bukanlah sejarah. Sejarah itu ada karena konstruksi dari sejarawan terhadap sumber sejarah. Dilihat dari sifatnya, sumber sejarah dapat dikategorikan ke dalam dua bentuk yaitu sumber primer dan sumber sekunder.

Apabila dilihat dari bentuknya, maka terdapat sumber tertulis, sumber lisan, dan sumber dalam wujud benda fisik atau artefak. Sumber primer dapat berupa orang yang langsung menyaksikan kejadian suatu peristiwa atau catatan yang dibuat pada zamannya dengan bentuk tulisan, isi, dan bahan yang sezaman. Tetapi apabila orang yang tidak langsung menyaksikan suatu peristiwa tetapi ia mengetahuinya,maka termasuk sumber sekunder. Sumber sekunder dalam bentuk tertulis dapat berupa catatan tertulis yang bentuk tulisan dan bahannya tidak sezaman.

Berdasarkan sifatnya sumber-sumber sejarah dapat dibagi menjadi tiga kelompok yakni, sumber primer, sumber sekunder, dan sumber tersier yang penjelasan masing-masingnya adalah:

  1. Sumber primer adalah sumber-sumber sejarah yang asli dan berasal dari zamannya seperti prasasti, kronik, piagam, bangunan (candi dan masjid), serta nisan. Sumber primer ini juga disebut sumber asli atau juga sumber utama.
  2. Sumber sekunder, sumber sejarah yang berasal dari sumber kepustakaan kuno (babad, naskah, dan karya sastra) atau berupa sumber tiruan dari benda aslinya, misalnya prasasti tiruan.
  3. Sumber tersier, merupakan sumber yang berupa buku-buku sejarah yang telah disusun di mana si pengarang tidak melakukan penelitian langsung, tetapi berdasarkan pada hasil penelitian ahli sejarah (para sejarawan).

Dalam sumber lisan pun kita dapat membedakan sumber primer dan sekunder. Misalnya kita akan menulis pertempuran melawan Belanda di suatu kota pada masa revolusi. Untuk menulis peristiwa tersebut, kita mewawancarai orang yang pernah terlibat langsung dalam peristiwa tersebut. Kita menemukan misalnya seorang tentara yang sekarang sudah purnawirawan dan pernah ikut bertempur dalam peristiwa itu. Perwira yang kita wawancarai itu bisa dikatakan sebagai sumber primer. Apabila kita mewawancari anak perwira tersebut, dan anaknya tidak terlibat dalam peristiwa tersebut, tetapi mengetahuinya mungkin dari cerita ayahnya, maka anak perwira tersebut dapat dikategorikan ke dalam sumber sekunder.

Sumber tertulis

Penggunaan sumber tertulis dalam penelitian sejarah amatlah penting. Biasanya sumber tertulis dapat memberikan informasi aspek-aspek yang akan kita teliti, misalnya aspek sosial, ekonomi, budaya, politik, dan lainlain. Dilihat dari segi bentuknya, sumber tertulis dapat berbentuk tulisan yang tercetak dan tulisan yang masih ditulis tangan atau manuskrip.

sumber tertulis
Contoh sumber tertulis

Sumber lisan

Sumber lisan diperoleh melalui wawancara. Metode yang digunakan dalam pengumpulan sumber lisan tersebut dikenal sebagai Oral History. Data sejarah yang kita peroleh dalam sejarah lisan ialah apa yang ada dalam memori informan, baik sebagai saksi langsung maupun tidak langsung. Kebenaran sumber lisan ini sangat tergantung pada penuturan informan yang diwawancarai.

Dalam melakukan wawancara, dibutuhkan kemampuan teknik-teknik tertentu. Ketrampilan tersebut baik pada saat sebelum wawancara dilaksanakan maupun pada saat pelaksanaan. Peneliti sejarah terlebih dahulu harus memiliki persiapan yang matang sebelum wawancara dilaksanakan. Sebelum wawancara dilaksanakan, peneliti sejarah harus menguasai terlebih dahulu materi yang akan ditanyakan. Misalnya kita akan meneliti pertempuran menghadapi Belanda yang terjadi di suatu daerah pada masa revolusi. Kita harus tahu terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan zaman revolusi, bagaimana gambaran umum zaman revolusi, dan lain-lain. Dengan pengetahuan seperti ini, diharapkan wawancara yang kita lakukan akan lebih mendalami pengetahuan yang sebelumnya telah diketahui.