Tag: Sel Darah Merah

Glomerulus adalah struktur kecil berbentuk bola yang terdiri dari pembuluh darah kapiler aktif terlibat dalam penyaringan darah untuk membentuk urin.

Glomerulus di ginjal dinamakan demikian oleh ahli anatomi Italia Marcello Malpighi (1628-1694). Struktur ini pernah disebut sel malphigian. “Glomerulus” adalah kecil dari “glomus” Latin yang berarti “bola benang.” Secara harfiah “bola kecil benang”. Jamak: glomeruli.

Glomerulus yaitu simpul pembuluh darah dengan ukuran sangat kecil yang terletak disebalah dean nefron ginjal. Glomerulus merupakan bagian dari ginjal. Glomerulus adalah tempat penyaringan darah yang berperan dalam menyaring air, garam, asam amino, glukosa dan urea. Serta menghasilkan urin primer.

Fungsi utama atau paling penting glomerulus adalah sebagai alat penyaringan/filtrasi dimana ini adalah proses pertama darah disaring untuk menghasilkan urin.

Urin primer yang berasal dari glomerulus akan diangkut ke tubulus kontortus proksimal yang juga salah satu bagian dari nefron ginjal. Glomerulus diselubungi oleh kapsula Bowman yang bentuknya seperti cangkir. Glomerulus dengan kapsula Bowman akan membentuk renal korpuskula.

Fungsi Glomerulus

Adapun fungsi glomerulus yaitu:

  • Glomerulus melakukan eleminasi toksin (racun) pada darah
  • Sebagai penghasil urin primer yang harus diproses pada tahap berikutnya.
  • Glomerulus sebagai penyaring air, asam amino, glukosa dan urea
  • Sebagai pengatur tekanan dan volume darah dengan sel jukstaglomerular
  • Glomerulus menjalankan proses penyaringan (filtrasi) yang merupakan bagian dari proses penyaringan darah di nefron ginjal.
  • Sebagai pencegahan molekul dengan ukuran besar seperti protein masuk ke nefron.
  • Glomerulus melakukan pembersihan zat kimia yang masuk melalui makanan/minuman. Zat-zat seperti pemutih, penjernih, pengawet, pengental, pewarna, penyedap dan pemanis buatan harus dikeluarkan oleh ginjal berupa air seni (urin).
  • Mensekresikan limbah nitrogen dari hasil metabolisme protein seperti urea atau BUN, serta kretanin dan asam urat baik yang bersumber dari makanan atau kerusakan otot.
  • Glomerulus mempertahankan zat yang bermanfaat seperti albumin (protein darah) dan glukosan (gula darah) supaya kedua zat tersebut tidak tertukar.

Pengertian Glomerulus

Glomerulus adalah salah satu struktur kunci yang membentuk nefron, unit fungsional ginjal. Glomerulus sebagaimana sudah dijelaskan pada awal paragraf diatas, merupakan simpul dari pembuluh darah yang berukuran kecil yang berperan dalam penyaringan darah untuk menghasilkan urin.

Gangguan

Glomerulonefritis adalah salah satu jenis penyakit ginjal di mana terjadi peradangan pada glomerulus. Glomerulus adalah bagian ginjal yang berfungsi sebagai penyaring dan membuang cairan serta elektrolit berlebih, juga zat sisa (sampah) dari aliran darah. Kerusakan pada glomelurus akan menyebabkan terbuangnya darah serta protein melalui urine.

Kondisi glomerulonefritis pada masing-masing penderita bisa berbeda-beda. Ada yang mengalaminya dalam waktu singkat (akut) dan ada yang jangka panjang (kronis). Penyakit ini juga bisa berkembang pesat sehingga mengakibatkan kerusakan ginjal dalam beberapa minggu atau bulan, keadaan ini disebut rapidly progressive glomerulonephritis (RPGN).

Glomerulonefritis akut biasanya merupakan respons tubuh terhadap infeksi yang sedang terjadi pada tubuh. Sedangkan glomerulonefritis kronis seringkali tidak diketahui penyebabnya dan tidak bergejala, sehingga dapat menyebabkan kerusakan ginjal yang tidak dapat diperbaiki kembali. Glomerulonefritis kronis yang ditemukan awal, dapat dicegah perkembangannya.

Gejala-gejala Glomerulonefritis

Gejala yang muncul pada penderita glomerulonefritis bergantung kepada jenis penyakit ini, apakah akut atau kronis. Gejala yang umumnya muncul, antara lain adalah:

  • Urine yang berbuih dan berwarna kemerahan.
  • Hipertensi.
  • Pembengkakan pada wajah, tangan, kaki, dan perut.
  • Kelelahan.
  • Frekuensi buang air kecil berkurang.
  • Munculnya cairan di paru-paru yang menyebabkan batuk.

Glomerulonefritis kronis seringkali sulit terdeteksi karena dapat berkembang tanpa menimbulkan gejala. Apabila muncul gejala, gejalanya dapat serupa dengan gejala yang ada pada glomerulonefritis akut. Namun, berbeda dengan glomerulonefritis akut, pada glomerulonefritis kronik dapat terjadi frekuensi buang air kecil yang meningkat di malam hari.

Penyebab dan Faktor Pemicu Glomerulonefritis

Glomerulonefritis dapat terjadi akibat berbagai kondisi, seperti infeksi, kelainan sistem imun, dan gangguan pembuluh darah. Umumnya, glomerulonefritis akut memiliki penyebab yang lebih jelas dibanding glomerulonefritis kronis. Beberapa hal yang dapat menyebabkan glomerulonefritis akut, antara lain adalah:

  • Infeksi. Glomerfulonefritis dapat terjadi akibat infeksi bakteri atau virus. Infeksi yang terjadi pada tubuh mengakibatkan reaksi kekebalan tubuh yang berlebihan sehingga mengakibatkan peradangan pada ginjal dan terjadi glomerulonefritis. Contoh infeksi yang dapat menyebabkan glomerulonefritis, antara lain adalah infeksi bakteri Streptococcus pada tenggorokan, infeksi gigi, endokarditis bakteri, HIV, hepatitis B, dan hepatitis C.
  • Kelainan sistem imun. Contohnya adalah penyakit lupus yang menyebabkan peradangan pada berbagai organ tubuh, termasuk ginjal. Selain itu glomerulonefritis juga dapat disebabkan oleh kelainan sistem imun lainnya, seperti sindrom Goodpasture yang menyerupai pneumonia dan menyebabkan perdarahan di paru-paru dan ginjal, serta nefropati IgA yang menyebabkan endapan salah satu protein sistem pertahanan tubuh (IgA) pada glomerulus ginjal.
  • Vaskulitis. Vaskulitis dapat terjadi pada berbagai organ, termasuk ginjal. Contoh penyakit vaskulitis yang menyerang pembuluh darah ginjal dan mengakibatkan glomerulonefritis adalah poliarteritis dan granulomatosis Wegener.

Glomerulonefritis kronis seringkali tidak memiliki penyebab yang khusus. Salah satu penyakit genetik, yaitu sindrom Alport dapat menyebabkan glomerulonefritis kronis. Paparan zat kimia pelarut hidrokarbon dan riwayat kanker juga diduga memicu terjadinya glomerulonefritis kronis.

Diagnosis Glomerulonefritis

Untuk memastikan diagnosis, dokter akan menganjurkan beberapa pemeriksaan, seperti:

  • Pemeriksaan urine. Pemeriksaan urine merupakan metode terpenting dalam mendiagnosis glomerulonefritis karena dapat mendeteksi adanya kerusakan struktur glomerulus. Beberapa parameter yang dianalisis melalui pemeriksaan urine, antara lain adalah:
    • Keberadaan sel darah merah sebagai penanda adanya kerusakan glomerulus.
    • Keberadaan sel darah putih sebagai penanda adanya peradangan.
    • Menurunnya berat jenis urine.
    • Keberadaan protein sebagai penanda adanya kerusakan sel ginjal.
  • Tes darah. Tes darah dapat memberikan informasi tambahan terkait kerusakan ginjal. Beberapa hal yang dapat diperiksa pada darah untuk melihat kerusakan ginjal, antara lain:
    • Menurunnya kadar hemoglobin (anemia).
    • Meningkatnya kadar zat sisa seperti ureum dan kreatinin.
    • Menurunnya kadar protein albumin dalam darah karena keluar melalui urine.
  • Tes Imunologi. Tes imunologi dilakukan untuk mendapatkan informasi mengenai kelainan sistem imun. Pemeriksaan tersebut antara lain antinuclear antibodies (ANA), komplemen, antineutrophil cytoplasmic antibody (ANCA), dan antiglomerular basement membrane (anti-GBM).
  • Pencitraan. Pencitraan bertujuan untuk memperlihatkan gambaran kondisi ginjal secara visual. Metode pencitraan yang dapat digunakan, antara lain adalah foto Rontgen, CT scan dan USG.
  • Biopsi ginjal. Dilakukan dengan mengambil sampel jaringan ginjal dan diperiksa di bawah mikroskop untuk memastikan pasien menderita Biopsi juga akan membantu dokter untuk mencari penyebab dari glomerulonefritis tersebut.

Pengobatan Glomerulonefritis

Langkah pengobatan untuk tiap penderita glomerulonefritis tentu berbeda-beda. Perbedaan ini ditentukan oleh beberapa faktor, yaitu jenis glomerulonefritis yang diderita (kronis atau akut), penyebabnya, serta tingkat keparahan gejala yang dialami.

Tujuan utama pengobatan glomerulonefritis adalah untuk mencegah kerusakan ginjal yang lebih parah. Glomerulonefritis akut terkadang bisa sembuh dengan sendirinya tanpa membutuhkan penanganan tertentu, biasanya yang diakibatkan oleh infeksi Streptokokus pada tenggorokan.

Beberapa jenis pengobatan glomerulonefritis yang dapat diberikan, antara lain adalah:

  • Obat imunosupresan. Imunosupresan dapat diberikan untuk menangani glomerulonefritis akibat gangguan sistem imun. Contoh obat ini adalah kortikosteroid, cyclophosphamide, ciclosporin, mycophenolate mofetil, dan azathioprine.
  • Obat pengatur tekanan darah. Glomerulonefritis dapat menyebabkan tekanan darah meningkat dan menimbulkan kerusakan ginjal yang lebih parah. Oleh karena itu, tekanan darah penderita glomerulonefritis perlu diatur untuk mencegah kerusakan ginjal. Dua golongan obat yang dapat digunakan untuk mengatur tekanan darah adalah ACE inhibitors (contohnya captropil dan lisinopril) dan ARB (contohnya losartan dan valsartan). Selain itu, kedua golongan obat tersebut juga dapat mengurangi kadar protein yang bocor melalui urine, sehingga obat bisa tetap diberikan walaupun tekanan darah tidak tinggi.
  • Plasmapheresis. Dapat dilakukan pada penderita dengan hasil tes imunologi ANCA dan anti-GBM positif. Protein sistem imun (antibodi) yang terdeteksi melalui pemeriksaan imunologi biasanya terkandung dalam plasma darah. Untuk membuang antibodi tersebut, dilakukan pembuangan plasma darah penderita, melalui sebuah prosedur yang disebut plamapheresis. Plasma darah yang dibuang akan digantikan dengan plasma pengganti atau cairan infus.
  • Obat-obatan lain. Obat lain yang dapat diberikan, di antaranya adalah diuretik untuk mengurangi bengkak, dan suplemen kalsium.

Jika glomerulonefritis diketahui sejak awal, kerusakan ginjal yang disebabkan oleh glomerulonefritis akut dapat diperbaiki kembali. Jika glomerulonefritis yang terjadi bertambah parah dan menyebabkan gagal ginjal, penderita dapat menjalani proses hemodialisis (cuci darah) untuk menyaring darah. Selain itu, penderita juga dapat menjalani operasi cangkok ginjal.

Agar kerusakan ginjal tidak bertambah parah, penderita glomerulonefritis dapat menerapkan langkah-langkah pendukung pengobatan seperti berikut ini:

  • Menjaga berat badan.
  • Berhenti merokok.
  • Mengurangi asupan kalium.
  • Mengurangi asupan protein.
  • Mengurangi konsumsi garam.

Komplikasi Glomerulonefritis

Glomerulonefritis akut terkadang bisa sembuh tanpa penanganan tertentu. Tetapi secara umum, baik glomerulonefritis akut maupun kronis bila tidak ditangani secara benar, bisa bertambah parah dan memicu penyakit lain. Beberapa komplikasi yang mungkin terjadi adalah:

  • Hipertensi.
  • Sindrom nefrotik.
  • Gagal ginjal akut.
  • Penyakit ginjal kronis.
  • Gagal jantung dan edema paru akibat cairan yang menumpuk dalam tubuh.
  • Gangguan kesimbangan elektrolit seperti natrium dan kalium.
  • Rentan terhadap infeksi.


Darah mengandung zat penting lainnya, seperti nutrisi dari makanan yang telah diproses oleh sistem pencernaan. Darah juga membawa hormon yang dilepaskan oleh kelenjar endokrin dan membawa mereka ke bagian tubuh yang membutuhkannya. Darah sangat penting bagi kesehatan yang baik karena tubuh tergantung pada pasokan bahan bakar dan oksigen mencapai miliaran sel. Bahkan jantung tidak bisa bertahan hidup tanpa darah yang mengalir melalui pembuluh yang membawa makanan untuk dinding berotot.

Darah juga membawa karbon dioksida dan limbah lainnya ke paru-paru, ginjal, dan sistem pencernaan yang akan dikeluarkan dari tubuh. Sel-sel darah dan sebagian dari darah protein khusus berisi dapat diganti atau ditambah dengan memberikan orang darah dari orang lain melalui transfusi.

Selain menerima transfusi seluruh darah, orang juga bisa menerima transfusi dari komponen tertentu dari darah, seperti trombosit, sel darah merah, atau faktor pembekuan. Ketika seseorang menyumbangkan darah, seluruh darah dapat dipisahkan menjadi bagian yang berbeda yang akan digunakan dengan cara ini.

Nutrisi berperan dalam produksi sel darah merah

Beberapa nutrisi berperan dalam produksi sel darah merah. Tubuh membutuhkan sel darah merah mengantarkan oksigen ke jaringan-nya, sel-sel dan organ. Kekurangan gizi dapat menyebabkan kurangnya sel darah merah yang sehat, suatu kondisi yang disebut anemia. Gejala anemia termasuk kelemahan, kelelahan, sesak napas, penurunan fungsi kekebalan tubuh dan sulit berkonsentrasi.

Besi

Tubuh menggunakan sebagian dari besi untuk menyerap dalam produksi hemoglobin, protein dalam sel darah merah yang mengangkut oksigen ke seluruh tubuh. Makanan hewani  seperti daging, unggas, makanan laut, telur dan produk susu menyediakan sumber besi. Sumber zat besi nabati seperti bayam, biji-bijian, kacang-kacangan dan sereal.

Vitamin B-12

Makanan hewani menyediakan satu-satunya sumber alami vitamin B-12, vitamin larut air yang diperlukan untuk pembentukan sel darah merah serta metabolisme lemak dan protein dan fungsi neurologis. Kerang, hati sapi, ikan, ayam, kalkun, telur dan produk susu menyediakan sumber vitamin B-12.

Vitamin B-6

Vitamin B-6 memainkan peran penting dalam metabolisme sel darah merah dan produksi hemoglobin serta metabolisme protein dan kontrol gula darah. Vitamin B-6 ada secara alami dalam berbagai hewan dan makanan nabati, termasuk kacang-kacangan, daging, unggas, ikan dan buah-buahan dan sayuran seperti bayam, alpukat dan jus tomat. Banyak sereal juga mengandung vitamin B-6.

Fakta Tentang Trombosit

Trombosit secara alami diproduksi oleh tubuh manusia untuk membantu mencegah kehilangan darah. Mereka bekerja dengan protein fibrinogen, vitamin K dan mineral kalsium untuk membentuk bekuan. Pembekuan dimulai setelah darah muncul dalam kontak dengan udara. Koreng adalah pembekuan darah eksternal, sementara memar terbentuk secara internal. Sebuah bekuan yang terbentuk di dalam pembuluh sehat dapat mengurangi aliran oksigen melalui darah dan menyebabkan stroke.

Karakteristik Trombosit

Trombosit, yang membuat sekitar 20 persen dari sel-sel darah merah, yang diproduksi di dalam sumsum tulang ketika megakariosit – sel besar dalam sumsum tulang – fragmen. Sebuah hitungan normal adalah antara 150.000 sampai 350.000 trombosit per mikroliter darah.

Nutrisi dalam Darah
Nutrisi dalam Darah

Struktur Trombosit

Trombosit yang normal berbentuk seperti piring, yang mana nama mereka berasal darinya. Secara teknis bukan sel – melainkan bagian dari sel yang beredar – trombosit yang dirancang khusus untuk menghentikan pendarahan. Protein dari trombosit menempel ke dinding pembuluh darah rusak serta satu sama lain sebagai bagian dari proses pembekuan. Butiran dalam trombosit protein yang membantu mengeluarkan segel pembuluh darah rusak.

Fungsi Trombosit

Trombosit bergerak sepanjang dinding pembuluh darah, yang dilapisi dengan endotelium – permukaan yang tidak membiarkan apa pun untuk menempel. Setelah ada cedera, memecahkan endotelium, trombosit mulai menempel ke area yang rusak dan satu sama lain. Trombosit adalah tanggapan pertama cedera, dan memiliki kemampuan untuk berubah bentuk untuk menutupi daerah luka.

Pengaruh Aspirin

Disebabkan fiturnya sifat pengencer darah, aspirin dapat menyebabkan trombosit untuk berfungsi secara benar – dengan tidak memungkinkan mereka untuk tetap bersama-sama. Akibatnya, aspirin seringkali diberikan kepada pasien memiliki serangan jantung, karena mencegah pembentukan platelet , memungkinkan darah mengalir lebih leluasa ke jantung. Mengambil aspirin, bagaimanapun, dapat berbahaya bagi penderita hemofilia dan gangguan lain yang menempatkan mereka pada risiko tinggi untuk perdarahan.

Terlalu Banyak Trombosit

Dalam kasus yang jarang, orang menghasilkan terlalu banyak trombosit – kadang satu juta atau lebih per mikroliter. Hal ini meningkatkan risiko pembekuan darah, meskipun banyak individu dengan gangguan tersebut tidak pernah mengalami masalah pembekuan.

Terlalu Sedikit Trombosit

Trombositopenia adalah istilah untuk suatu kondisi pada orang yang memiliki terlalu sedikit trombosit. Sementara beberapa orang secara alami menghasilkan lebih sedikit trombosit dari biasanya, dalam kasus lain trombosit yang hancur atau rusak. Hal ini dapat terjadi ketika sumsum tulang rusak. Penyebab lain adalah produksi endotelium abnormal, yang memungkinkan trombosit untuk tetap bersama-sama sepanjang lapisan pembuluh darah terputus. Beberapa obat-obatan dan obat-obatan juga menghancurkan trombosit.


Hemolisis adalah proses yang dihasilkan ketika sel darah merah hancur dan hemoglobin yang dikandungnya dilepaskan ke dalam plasma darah. Istilah ini juga dapat ditekankan pada I pertama (hemolisis).

Untuk memahami apa itu hemolisis, oleh karena itu, penting untuk mendefinisikan konsep lain terlebih dahulu. Pertama-tama Anda harus tahu bahwa sel darah merah, juga disebut eritrosit, adalah sel darah. Di antara komponen-komponennya adalah hemoglobin, protein yang bertanggung jawab untuk membawa oksigen dari organ-organ sistem pernapasan ke berbagai jaringan tubuh.

Sel darah merah tidak memiliki nukleus atau organel: itulah sebabnya, ketika aus, mereka tidak dalam posisi untuk memperbaiki diri. Pada titik tertentu, sel darah merah dihancurkan dan hemoglobinnya dilepaskan ke dalam plasma, yang merupakan bagian cair dari darah. Proses penghancuran eritrosit dan pelepasan hemoglobin berikutnya dalam aliran darah disebut hemolisis.

Penting untuk disebutkan bahwa tidak semua sel darah merah dihancurkan dengan melepaskan hemoglobin. Mereka yang menjalani proses ini biasanya melakukannya di limpa, di sumsum tulang atau di hati, sekitar 120 hari setelah kemunculannya.

Ada berbagai penyebab tipe patologis yang dapat mempercepat atau meningkatkan hemolisis. Ini termasuk lesi mekanis, gangguan enzimatik atau osmotik, infeksi seperti malaria, perubahan bawaan yang memengaruhi eritrosit (dalam konteks infeksi atau keadaan hemoglobin yang abnormal), persimpangan antigen-antibodi (sebagai akibat dari penyakit hemolitik pada bayi baru lahir atau transfusi darah) dan berbagai penyakit.hemolisis

Di sisi lain, dalam kerangka tes darah, penanganan sampel dapat menyebabkan hemolisis jika ada kondisi tertentu, seperti berikut ini:

  • sedot sampel terlalu cepat;
  • gunakan wadah, jarum suntik dan jarum yang basah;
  • tidak mengosongkan jarum suntik dengan benar;
  • menggunakan proporsi antikoagulan yang tidak benar (zat yang digunakan untuk menghambat atau mengganggu pembekuan darah).

Hemolisis Pada daftar di atas kita dapat menambahkan kasus gigitan ular, ular berbisa dan laba-laba. Penting untuk dicatat bahwa episode hemolisis paling parah terjadi pada orang yang kekurangan dehidrogenase glukosa-6-fosfat dan terpapar pada zat, obat-obatan atau situasi yang mempotensiasi penghancuran eritrosit. Biasanya, fenomena ini berlangsung dalam waktu singkat dan pemulihan segera dimulai, karena tubuh tidak berhenti memproduksi sel darah merah; Namun, kadang-kadang kasus gagal ginjal atau bahkan kematian dapat terjadi, jika kejadiannya sangat parah.

Hemolisis menyebabkan gangguan dengan berbagai pengukuran, seperti LDH (laktat dehidrogenase, enzim katalis yang ada di berbagai jaringan tubuh kita), kalium, GOT (glutamic oxalacetic transaminase atau aspartate aminotransferase, enzim yang ada di berbagai jaringan, terutama di hati, di otot dan di jantung), GPT (alanine aminotransferase atau pyruvic glutamic transaminase, enzim yang ditemukan terutama di hati), kreatinin, bilirubin dan asam fosfatase (enzim milik kelompok esterase yang bertanggung jawab untuk menghilangkan kelompok fosfat substrat tertentu), antara lain.

Salah satu situasi yang dapat memicu episode hemolisis adalah tenggelam dalam air tawar: ketika orang tersebut tidak dapat lagi menahan napas, air di alveoli paru mencapai aliran darah dan kemudian disintegrasi eritrosit

Anemia hemolitik dan sindrom uremik hemolitik adalah dua kondisi yang mempengaruhi hemolisis dan menyebabkan berbagai gangguan pada kesehatan seseorang.


Leukemia adalah penyakit kanker sel darah putih, yang bertanggung jawab untuk memerangi infeksi. Seperti jenis sel darah lain di dalam tubuh (sel darah merah, yang membawa oksigen; dan trombosit, yang membantu mengendalikan perdarahan), sel darah putih terbentuk di sumsum tulang, bahan kenyal yang mengisi tulang.

Di sumsum tulang, sel-sel yang tidak matang berkembang biak dan menjadi sel-sel merah, sel-sel putih dan trombosit. Saat mereka dewasa mereka dilepaskan ke dalam aliran darah.

Pada leukemia, sel-sel darah putih bukannya tumbuh dan berkembang biasanya tumbuh di luar kendali dan tidak matang. Pertumbuhan sel darah putih imatur yang tidak terkontrol ini dapat memadatkan sumsum tulang sehingga mencegahnya menghasilkan sel darah putih yang sehat, sel darah merah dan trombosit.

Ada beberapa jenis leukemia, masing-masing dengan karakteristik dan pengobatan khusus sendiri.  Disini kami menjelaskan bagaimana empat jenis utama berbeda:

  • leukemia myeloid akut (AML),
  • leukemia limfoblastik akut (ALL),
  • leukemia myeloid kronis (CML) dan
  • leukemia limfositik kronis (CLL)

Jenis lain yang lebih jarang juga diwakili, seperti leukemia sel rambut, yang disebut karena proyeksi seperti rambut yang dapat dilihat melalui mikroskop pada permukaan sel darah putih yang terkena. Beberapa kondisi non-kanker lainnya mempengaruhi produksi sel darah, dan kemudian dapat berkembang menjadi leukemia. Perawatan untuk leukemia bervariasi sesuai dengan jenisnya.


Semua sel, dari bakteri prokariotik sederhana hingga organisme multiseluler kompleks dikelilingi oleh membran (selaput). Membran bertindak sebagai penghalang selektif, membiarkan beberapa zat masuk ke dalam sel dan mencegah masuknya zat lain, dan juga secara aktif mengangkut zat antara bagian dalam dan luar sel, menggunakan energi seluler untuk melakukannya.

Membran sel penting dalam mengatur konsentrasi banyak zat yang harus dijaga dalam batas yang ketat. Sel juga mengandung kompartemen terikat membran, di mana membran bertindak sebagai penghalang untuk pemisahan lingkungan yang berbeda, seperti lisosom yang memiliki pH tinggi yang akan menjadi racun bagi bagian sel lainnya. Selanjutnya, lipid adalah molekul polar yang umumnya larut dalam pelarut organik karena banyaknya ikatan nonpolar dalam lipid. Kemampuan mereka untuk membentuk membran adalah sebagai hasil dari sifat hidrofobik mereka, yang dikontribusikan oleh asam lemak mereka. Membran bersifat amphipatik.

Lipid Bilayer

Orang pertama yang menghubungkan lipid dengan membran sel mungkin adalah Charles Ernest Overton, yang mempelajari hereditas pada tanaman. Bagian dari studinya melibatkan mempelajari zat mana yang diserap ke dalam sel tumbuhan paling cepat. Setelah mengkarakterisasi sejumlah besar zat, ia datang dengan gagasan bahwa membran sel terdiri dari sesuatu yang mirip dengan lipid yang ditemukan dalam minyak nabati, dan bahwa zat diserap ke dalam sel dengan melarutkan melalui membran.

Langkah besar berikutnya datang ketika Gorter dan Grendel mengekstraksi lipid dari sel darah merah dan membandingkan luas permukaan lipid yang tersebar di air dibandingkan dengan luas permukaan sel darah merah. Mereka menemukan luas permukaan lipid dua kali lipat dari sel darah merah, dan menyimpulkan bahwa lipid harus diatur dalam lapisan dua molekul lipid yang tebal. Lipid Bilayer adalah membran lapisan ganda yang terbentuk dari fosfolipid. Fosfolipid terdiri dari kelompok kepala polar dan ekor asam lemak non-polar. Susunan fosfolipid membuat membran sel bersifar permeabel.

Asam lemak

Asam lemak adalah asam karboksilat linier dengan rantai hidrokarbon yang panjang. Dalam asam lemak, rantai hidrokarbon non-polar memberikan molekul karakter non-polar Asam lemak biasanya memiliki antara 14 dan 24 atom karbon dan rantai karbon mereka mungkin memiliki satu atau lebih ikatan rangkap. Dalam asam lemak yang terjadi secara alami, ikatan rangkap ini sebagian besar dalam konfigurasi cis.

Asam lemak memiliki nama umum dan nama sistematis. Nama sistematis didasarkan pada alkana atau alkena dengan jumlah atom karbon yang sama, dengan e akhir hidrokarbon diganti dengan asam oat, jika rantai karbon asam lemak jenuh (tanpa ikatan rangkap dalam rantai karbonnya), dan “asam enoat” jika ada dua kali lipat dalam rantai karbonnya. Misalnya Laurate adalah asam lemak dengan 12 atom karbon dan tanpa ikatan rangkap, sehingga nama sistematisnya adalah asam dekanoat, dan bentuk terionisasi adalah dodekanoat. (tabel asam lemak jenuh) Jika ada ikatan rangkap, lokasi ditandai dengan simbol Δ dengan nomor superskrip yang menunjukkan lokasi ikatan rangkap dan didahului oleh cis atau trans untuk menunjukkan konfigurasi (tetapi hampir selalu cis). Atom karbon dihitung dari ujung karboksil, jadi asam dodekanoat dengan ikatan rangkap cis antara atom karbon 9 dan 10 adalah: cis-Δ9-dodekanoat.

Atom karbon nomor 2, 3 dan terakhir masing-masing disebut atom α, β, dan ω.

Asam lemak biologis biasanya mengandung jumlah atom karbon yang genap, dengan jumlah 16 dan 18 yang paling umum. Panjang rantai asam lemak dan derajat kejenuhan berkontribusi besar pada sifat-sifatnya yang berbeda. Semakin pendek panjang rantai dan semakin tidak jenuh dalam asam lemak meningkatkan fluiditasnya, sehingga menurunkan titik lelehnya.

Fosfogliserida

Fosfogliserida adalah ester dari dua asam lemak, asam fosfat dan trifungsional alkohol-gliserol. Asam lemak melekat pada gliserol pada posisi 1 dan 2 pada gliserol melalui ikatan ester. Fosfogliserida terdiri dari tulang punggung gliserol dengan substituen dalam pengaturan berikut:

    • Hidroksil # 1 gliserol biasanya diesterifikasi menjadi asam lemak jenuh
    • Hidroksil # 2 dari gliserol biasanya diesterifikasi menjadi asam lemak tak jenuh
    • Hidroksil # 3 gliserol diesterifikasi menjadi gugus fosfat

Sfingolipid

Adalah jenis lipid kedua yang ditemukan dalam membran sel, terutama sel saraf dan jaringan otak. Mereka tidak mengandung gliserol, tetapi mempertahankan dua alkohol dengan posisi tengah ditempati oleh amina dan memiliki bentuk keseluruhan yang sama dengan fosfogliserida tetapi memiliki kimia yang berbeda, menggunakan Sfingosina sebagai pengganti gliserol. Sfingosina memiliki ekor hidrokarbon panjang yang mirip dengan asam lemak yang melekat pada struktur yang mirip dengan serin asam amino. Asam lemak dapat menempel pada gugus amina, dan gugus “kepala” dapat menempel pada hidroksil. Sfingolipid diberi nama sesuai dengan kelompok kepala ini:

  • Jika tidak ada kelompok kepala itu disebut Seramid
  • Jika kelompok kepala adalah fosfat dan kolin, itu disebut Sfingomielin
  • Jika kelompok kepala adalah gula, itu disebut glikosphingolipid (atau glikolipid)

Mayoritas sphingolipid adalah tipe ketiga, glikosphingolipid. Diperkirakan mereka memiliki fungsi dalam pengenalan dan perlindungan sel selain peran struktural mereka dalam membran.

Pembentukan Bilayer

Jika kita membandingkan struktur fosfogliserida dan sphingolipid, kita melihat bahwa mereka adalah senyawa yang sangat mirip. Setiap lipid memiliki dua “ekor” hidrokobia hidrofobik panjang dan satu “kepala” polar. Karena molekul memiliki gugus polar dan nonpolar, molekul ini disebut amfipatik. Ini adalah sifat amfipatik dari molekul-molekul ini yang menyebabkan mereka membentuk bilayer, yang dimediasi oleh empat kekuatan:

  • Efek hidrofobik – ini menyebabkan ekor hidrofobik bergabung. Ini adalah kekuatan terkuat yang mendorong pembentukan bilayer. Ini adalah konsekuensi dari peningkatan entropi dalam molekul air ketika zat-zat non polar teragregasi dalam air.
  • Gaya Van der Walls antara ekor hidrofobik.
  • Gaya elektrostatik dari kelompok kepala.
  • Ikatan hidrogen antara kelompok kepala.

Salah satu struktur yang mungkin memenuhi gaya di atas disebut misel. Hal ini biasa terjadi dengan asam lemak bebas, tetapi tidak dengan sebagian besar fosfogliserida dan sphingolipid karena kelompok-kelompok ini memiliki rantai asil dua kali lebih banyak per kepala daripada asam lemak (gambar), dan sulit untuk mengemas semuanya ke dalam pusat misel. Fosfolipid dan sphingolipid lebih sering membentuk lapisan ganda dalam lembaran atau bola. Inilah yang disebut lipid bilayer. Bilayer lipid dapat ditembus oleh molekul air dan molekul kecil lain yang tidak bermuatan seperti oksigen, karbon dioksida. Lembaran bimolekul yang dibentuk oleh molekul amphipathic di mana gugus hidrofobik berada di bagian dalam lembaran dan yang hidrofilik berada di bagian luar yang berair.


Ginjal Anda penting karena mereka melakukan tiga hal penting:

1. Ginjal mengatur air

Agar tubuh Anda berfungsi dengan baik, ia harus mengandung jumlah air yang tepat. Salah satu pekerjaan penting dari ginjal adalah membuang kelebihan air dari tubuh atau menahan air saat tubuh membutuhkan lebih banyak.

2. Ginjal membuang produk-produk limbah dan membantu menyeimbangkan mineral tubuh

Banyak zat dalam darah dan cairan tubuh lainnya harus dijaga pada tingkat yang benar agar tubuh berfungsi dengan baik. Misalnya, natrium (garam) dan kalium adalah mineral yang berasal dari makanan. Tubuh membutuhkan mineral ini untuk kesehatan yang baik, tetapi mereka harus dijaga pada tingkat tertentu. Ketika ginjal bekerja dengan baik, mineral tambahan, seperti natrium dan kalium, dilepaskan tubuh Anda dalam urin. Ginjal juga membantu menyesuaikan kadar mineral lain, seperti kalsium dan fosfat (yang penting untuk kekuatan tulang, pertumbuhan, dan fungsi lainnya).

Ginjal Anda membantu mengeluarkan produk limbah, seperti urea dan kreatinin, dari tubuh Anda. Urea dan limbah lainnya dibuat ketika tubuh memecah protein, seperti daging. Kreatinin adalah produk limbah otot. Saat fungsi ginjal menurun, kadar urea dan kreatinin dalam darah meningkat. Tingkat kreatinin dalam darah adalah ukuran fungsi ginjal yang sangat berguna. Ini diukur dengan tes darah sederhana.

3. Ginjal memproduksi hormon

Ginjal normal juga membuat bahan kimia penting dalam tubuh Anda yang disebut hormon. Hormon-hormon ini bersirkulasi dalam aliran darah seperti “pembawa pesan” dan mengatur tekanan darah, produksi sel darah merah dan keseimbangan kalsium dalam tubuh Anda.