Tag: Konsumsi

Koenzim adalah senyawa organik non-protein yang berikatan dengan enzim untuk mengkatalisasi suatu reaksi. Koenzim sering secara luas disebut kofaktor, tetapi mereka secara kimia berbeda. Contoh koenzim: NAD + dan NADP +, Koenzim A, Menaquinone.

Pengertian Koenzim

Koenzim adalah kokatalis yang dikonversi menjadi produk baru bersamaan dengan setiap pergantian substrat.

Semua vitamin yang larut dalam air dan dua vitamin yang larut dalam lemak, A dan K, berfungsi sebagai kofaktor atau koenzim. Koenzim berpartisipasi dalam berbagai reaksi biokimiawi yang melibatkan pelepasan energi atau katabolisme, serta reaksi anabolik yang menyertainya.

Bentuk koenzim aktif tiamin, vitamin B1, adalah tiamin pirofosfat (TPP). TPP terlibat dalam dekarboksilasi oksidatif dan reaksi transketolase. Contohnya adalah dekarboksilasi (penghilangan —COO−−) dari tiga karbon piruvat menjadi dua-karbon asetil koenzim A (CoA), sebuah langkah penting dalam pemecahan karbohidrat.

Pengertian Koenzim ialah sebuah zat yang bekerja dengan enzim untuk memulai atau membantu fungsi enzim. Koenzim ini tidak bisa berfungsi sendiri dan membutuhkan kehadiran enzim. Sebuah non-protein organik yang memainkan peran penting dalam beberapa reaksi yang dikatalisis oleh enzim itu sendiri.

Koenzim adalah ko-faktor  yang berupa molekul organik kecil yang merupakan bagian enzim yang tahan panas, mengandung ribose dan fosfat,  larut dalam air dan bisa bersatu dengan apoenzim membentuk holoenzim.

Koenzim yang membentuk ikatan sangat erat baik secara kovalen maupun non kovalen dengan apoenzim di sebut gugus prostetik.  Koenzim memiliki fungsi aktif sebagai katalisator yang dapat meningkatkan kemampuan katalitik suatu enzim.

Selain itu koenzim juga berfungsi untuk menentukan sifat dari suatu reaksi dan dapat bertindak sebagai transpor elektron dari satu enzim ke enzim yang lain. Contoh koenzim adalah NADH, NADP dan adenosin trifosfat.

Koenzim merupakan komponen penting dari enzim yang diperlukan untuk setiap reaksi metabolisme dalam tubuh kita. Koenzim sering di identikan sebagai vitamin karena banyak koenzim ditemukan dalam bentuk derivat vitamin B seperti Niacin, Tiamin, Riboflavin, dl.

Koenzim berikatan dengan enzim membentuk holoenzim. Koenzim juga membentuk molekul lain dalam sel yang menjadi sumber energi Sel. Energi sell dibutuhkan molekul-molekul sel untuk melakukan fungsi-fungsi khusus.

Contoh dari salah satu fungsi koenzim bagi tubuh adalah retensi memori. Tanpa koenzim, tubuh manusia tidak bekerja dan semua proses sel berhenti.

Klasififikasi Koenzim

  • Diklasifikasikan menjadi 2 tipe berdasarkan interaksi dengan apoenzim yaitu kosubstrat dan gugus prostetik.
  • Kosubstrat adalah substrat pada enzim yang mengkatalisis reaksi dengan cara mengubah jalan reaksi dan mendisosiasi sisi aktif. Struktur awal dari kosubstrat diregenerasi oleh reaksi lanjutan yang dikatalisis oleh enzim lain. Kosbstrat dapat didaur ulang berkali-kali didalam sel, tidak seperti substrat biasa yang produknya secara khas mengalam perubahan lebih lanjut. Kumparan kosubstrat gugus metabolit aktif berbeda dengan enzim yang mengkatalisis reaksi.
  • Gugus prostetik terikat pada enzim selama jalannya reaksi, pada beberapa hal gugus prostetik terikat secara kovalen pada apoenzim yang pada kasus lain gugus prostetik terikat kuat pada sisi aktif dengan interaksi lemah. Seperti residu asam amino ionik pada sisi aktif , gugus prostetik akan kembali pada bentuk asalnya.
  • Kosubstrat dan gugus prostetik merupakan bagian dari sisi aktif yang tdak terdapat pada rantai samping residu asam amino.
  • Prokariot, protista, fungi, dan tumbuhan dapat mensintesis sendiri koenzim dari prekursor sedangkan mamalia membutuhkan sumber koenzim untuk bertahan hidup yang disuplai dari nutrisi (biasanya dalam jumlah kecil) yang disebut vitamin.
  • Sumber utama vitamin dari tumbuhan dan organisme meskipun binatang karnivora dapat memenuhi vitamin dari daging. Sebagian besar vitamin akan diubah secara enzimatik menjadi koenzim koresponden
  • Penyakit karena kekurangan nutrisi dapat terjadi saat vitamin sedikit atau tidak ada pada makanan seekor hewan namun dapat diatasi dan dicegah dengan mengkonsumsi vitamin yang tepat. Pemulihan dari penyakit tersebut telah digunakan untuk menguji potensi ekstrak selama isolasi vitamin.
  • Sebagian besar vitamin akan dikonversi menjadi koenzim setelah bereaksi dengan ATP. Banyaknya molekul ATP yang ditransfer pada vitamin merupakan gugus yang mengikat koenzim pada sisi aktif enzim.
  • Kata vitamin diciptakan oleh Casimir Funk pada tahun 1912 untuk mendeskripsikan “vital amin” dari sekam beras yang menyembuhkan penyakit beri-beri (penyakit kekurangan nutrisi yang berakibaat pada kemunduran syaraf). Beri-beri pertama kali ditemukan pada burung. Substansi anti beri-beri (tiamin) dikenal sebagai vitamin B1.
  • Dua klasifikasi vitamin: vitamin larut air (seperti vitamin B) dan vitamin larut lemak (vitamin lemak). Vitamin larut air dibutuhkan tiap harinya dalam jumlah yang sedikit karena vitamin ini dieksresi dengan cepat pada urin dan penyimpanan selular dan koenzimnya tidak stabil. Vitamin larut lemak seperti vitamin A, D, E, K disimpan oleh hewan dan kelebihan asupan vitamin dapat berakibat toksik yang disebut hiperavitaminosis.

Fungsi Koenzim

Koenzim adalah senyawa organik, terikat pada enzim untuk membuat enzim aktif secara katalitik, tetapi hubungan mereka dengan enzim hanya bersifat sementara, biasanya terjadi selama proses katalisis. Koenzim berfungsi sebagai kofaktor dalam sejumlah reaksi yang dikatalisis enzim yang berbeda.

Komponen kimia penting dari banyak koenzim adalah vitamin, mis., Koenzim nicotinamide adenine dinucleotide (NAD) dan NADP mengandung vitamin niacin; flavin adenine dinucleotide (FAD) berasal dari vitamin riboflavin.

Koenzim berfungsi sebagai pembawa sementara produk setengah reaksi. Koenzim biasanya berpartisipasi dalam interaksi substrat-enzim dengan menyumbang atau menerima gugus kimia tertentu.

Koenzim selalu mendapatkan kembali bentuk aslinya meskipun mungkin telah diubah selama reaksi. Banyak vitamin yang merupakan precursor dari koenzim. contohnya saja seperti: vitamin B yang berfungsi sebagai koenzim penting bagi enzim untuk membentuk lemak, karbohidrat dan protein.

Koenzim merupakan salah satu dari sejumlah senyawa organik bebas yang menyebar yang memiliki fungsi sebagai kofaktor dengan enzim dalam meningkatkan berbagai reaksi metabolisme. Koenzim berpartisipasi dalam katalisis yang dimediasi enzim stoikiometri, dimodifikasi selama reaksi dan mungkin memerlukan reaksi yang dikatalisasi enzim lain untuk mengembalikan mereka ke keadaan aslinya.

Contohnya termasuk nikotinamida adenin dinukleotida (NAD) yang menerima hydrogen dan memberikan itu dalam reaksi lain dan ATP, yang memberikan kelompok-kelompok fosfat sementara mentransfer energi kimia dan mengambil kembali fosfat dalam reaksi lain. Sebagian besar vitamin B (lihat vitamin B kompleks) merupakan koenzim dan sangat penting dalam memfasilitasi transfer atom atau kelompok atom antara molekul dama pembentukan karbohidrat, lemak dan protein.

Perbedaan Koenzim Dan Kofaktor

Koenzim

Berdasarkan strukturnya, enzim terdiri atas komponen yang disebut apoenzim yang berupa protein dan gugus protetik berupa non protein.Gugus prostetik dibedakan menjadi koenzim dan kofaktor.

Gugus koenzim tersusun dari senyawa organik nonprotein yang tidak melekat erat pada bagian protein enzim. Fungsi koenzim adalah membantu proses katalisis oleh enzim maupun penyusunan struktural yang penting. Koenzim digunakan untuk memantapkan ikatan antara substrat pada enzim atau mentransfer elektron yang timbul selama proses katalisa. Contoh koenzim adalah NADH, NADPH dan adenosina trifosfat.

Gugus kimiawi yang dibawa mencakup :

  • Ionhidrida(H –) yang dibawa olehNAD atau NADP+
  • Gugus asetil yang dibawa oleh koenzim A
  • Formil, metenil dibawa oleh asam folat
  • Gugus metil yang dibawa oleh S-adenosilmetionina.

Ada beberapa koenzim lain seperti riboflavin, tiamina, dan asam folat adalah vitamin.
Koenzim merupakan senyawa organik yang diperlukan untuk aktifitas suatu enzim tertentu yang bersifat termostabil dan memiliki berat molekul rendah.Koenzim akan memperbesar kemampuan katalitik sebuah enzim sehingga menjadi jauh melebihi kemampuan yang ditawarkan hanya oleh gugus fungsional asam aminonya, yang menyusun massa enzim tersebut.

Koenzim yang berikatan secara erat dengan enzim lewat ikatan kovalen atau gaya nonkovalen kerap kali disebut sebagai gugus prostetik. Koenzim yang mampu berdifusi secara bebas umumnya berfungsi sebagai unsur pembawa (yang didaur ulang secara kontinu) hydrogen (FADH), hidrida (NADH dan NADPH), atau unit-unit kimia seperti gugus asil (koenzim A) atau gugus metil (folat), membawanya bolak-balik antara tempat pembentukannya dan pemakaiannya. Oleh karena itu, koenzim yang disebut sebagai substrat sekunder.

Jenis-jenis enzim yang membutuhkan koenzim adalah enzim yang mengatalisis reaksi oksidasireduksi, pemindahan gugus serta isomerisasi, dan reaksi yang membentuk ikatan kovalen (kelas IUB 1,2,5, dan 6).

Kofaktor

Kofaktor berfungsi sama dengan gugus prostetik, tetapi berikatan secara reversible Dapat berupa zat anorganik

  • ion logam (Metal- activated enzymes)
    Dapat berupa zat organik
  • flavin dan heme

Contoh enzim yg mengandung kofaktor;
karbonat anhidrase dg kofaktor Zn terikatsbg bgn dari tapak aktifnya ->katalitik

Pembagian Kofaktor;

  1. Aktivator
    ion anorganik yang biasanya berikatan lemah dengan suatu enzim
    Contoh; Cu,Fe,Mn,Zn.Ca,K dan Co
  2. Ggs Prostetik -> ikatan kovalen
    dapat berupa senyawa,organik ttt,vitamin / ionlogam
    Contoh:
    FAD -> Vit,B2/Riboflavin -> menerima atom hidrogen
    Ion Logam: Sitokrom ->sebagai pembawa elektron pada Fe

Koenzim berupa gugus organik yang padaumumnya merupakan vitamin, seperti vitamin B1, B2, NAD+ (Nicotinamide Adenine Dinucleotide ).
Kofaktor berupa gugus anorganik yang biasanya berupa ion-ion logam, seperti Cu2+, Mg2+, dan Fe2+

Kofaktor adalah komponen enzim yangbersifat non-protein yang berfungsimengaktifkan enzim.
Sifatnya stabil terhadap perubahan suhuatau suatu reaksi.
Kofaktor dibedakan menjadi tiga tipe yaitu, aktivator, gugus prostetik dan ko-enzim

  1. Aktivator
    Aktivator adalah ion – ion anorganik yangbiasanya berikatan lemah dengan suatuenzim. Contoh beberapa logam berperansebagai aktivator dalam sistem enzimadalah Cu, Fe, Mn, Zn, Ca, K dan Co.
  2. Gugus Prostetik
    Gugus prostetik berikatan erat denganenzim (protein) oleh ikatan kovalen.Gugus prostetik dapat berupa senyawaorganik tertentu, vitamin atau ion logam.Misal FAD yang mengandung riboflavin (Vitamin
    B2) yang merupakan bagian FADyang menerima atom Hidrogen.
  3. Koenzim
    Enzim yang tidak mempunyai gugusprostetik, memerlukan senyawa organiklain untuk aktivitasnya juga disebutkoenzim. Koenzim tidak melekat erat padabagian protein enzim.

Perbedaan Enzim dan Koenzim

Enzim:
• Merupakan suatu biokatalisator
• Bersifat termolabil
• Bersifat spesifik dalam melaksanakan fungsinya
• Dirusak oleh logam berat
• Aktifitas enzim diukur dengan kecepatan reaksi enzimatik
• Letak enzim tertentu didalam sel
• Hanya mengkatalis satu macam reaksi

Koenzim:
• Senyawa organik yang diperlukan untuk aktifitas suatu enzim tertentu
• bersifat termostabil
• Berat molekul rendah
• Banyak koenzim yang merupakan derivat vitamin B
• Bisa di anggap sebagai substrat kedua.

Komponen Penyusun

Struktur enzim yang sempurna dan aktif mengkatalisis bersama-sama dengan koenzim atau gugus logamnya disebut dengan holoenzim. Holoenzim merupakan keseluruhan molekul enzim yang meliputi apoenzim dan kofaktor. Penyusun utama suatu enzim adalah molekul protein yang disebut Apoenzim. Apoenzim adalah suatu polipeptida yang mempunyai struktur tersier atau kuartener dengan urutan dan komposisi asam amino tertentu dan rantai polipeptida tersebut distabillkan oleh ikatan sulfida, ikatan hidrogen, dan ikatan Van der Waals. Apoenzim bersifat labil (mudah berubah) yang dipengaruhi oleh suhu dan keasaman.

Enzim memerlukan komponen lain yaitu kofaktor agar berfungsi dengan baik. Kofaktor akan terikat pada gugus aktif pada molekul protein enzim, sehingga kerja enzim yang ditunjukkan oleh aktivitas meningkat (Lehninger, 1982). Secara ringkas struktur sebuah enzim dapat dilihat pada bagan di bawah ini :

Kofaktor pada beberapa enzim dapat terikat secara lemah atau terikat secara kuat (permanent). Jika kofaktor terikat kuat dengan protein enzim dinamakan bagian prostetik. Tidak semua enzim memiliki struktur yang lengkap terdiri dari apoenzim dan kofaktor. Contoh enzim ribonuklease pankreas hanya terdiri atas polipeptida dan tidak mengandung gugus kimiawi yang lain. Berdasarkan ikatannya, kofaktor dapat dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu :

  • Gugus prostetik
    Tipe kofaktor yang biasanya terikat kuat pada enzim, berperan memberi kekuatan tambahan terhadap kerja enzim. Gugus prostetik dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu gugus prostetik yang tersusun dari bahan organik dan gugus prostetik yang tersusun dari bahan anorganik.Contohnya adalah heme, yaitu molekul berbentuk cincin pipih yang mengandung besi. Heme merupakan gugus prostetik sejumlah enzim, antara lain katalase, peroksidase, dan sitokrom oksidase.
  • Koenzim
    Bagian dari gugus prostetik bukan protein. Kofaktor yang terdiri atas molekul organik nonprotein yang terikat renggang dengan enzim. Koenzim berfungsi untuk memindahkan gugus kimia, atom, atau elektron dari satu enzim ke enzim yang lain. Contohnya FAD (flavin adenina dinukleotida), tiamin pirofosfat, NAD, NADP+, dan asam tetrahidrofolat.
  • Ion-ion anorganik
    Kofaktor yang terikat dengan enzim atau substrat kompleks sehingga fungsi enzim lebih efektif. Contohnya, amilase dalam ludah akan bekerja lebih baik dengan adanya ion klorida dan kalsium. Beberapa kofaktor tidak berubah di akhir reaksi, tetapi kadang-kadang berubah dan terlibat dalam reaksi yang lain. Ion anorganik dapat berupa ion logam yang berasosiasi dengan apoenzim dan diperlukan untuk aktivitas enzim tertentu. Ion logam tersebut berikatan dengan apoenzim melalui ikatan koordinasi


Dehidrasi adalah kekurangan air dalam tubuh akibat asupan cairan yang tidak memadai atau kehilangan berlebihan melalui keringat, muntah, atau diare.

Jika Anda mengalami dehidrasi, itu berarti tubuh Anda tidak mengandung air sebanyak yang dibutuhkan. Dehidrasi dikuantifikasi sebagai kehilangan 1% atau lebih besar dari berat badan sebagai akibat dari kehilangan cairan.

Bahkan tanpa keringat, pergantian air normal setiap hari adalah sekitar 4% dari total berat badan pada orang dewasa dan 15% dari total berat tubuh pada bayi. Pada orang dewasa 70kg, ini setara dengan 2,0-3,0 liter / hari. Pada bayi 7kg, ini setara dengan 1,0 liter / hari.

Dehidrasi dapat terjadi karena kehilangan terlalu banyak cairan, misalnya melalui konsumsi air yang tidak cukup, berkeringat, muntah atau diare.

Dehidrasi diklasifikasikan sebagai ringan, sedang atau berat – berdasarkan berapa banyak cairan yang hilang atau tidak diisi ulang.

Efek yang merugikan pada kinerja kognitif dan fisik diketahui sebanding dengan tingkat dehidrasi dan sangat signifikan pada dehidrasi 2% untuk semua fungsi mental mis. memori jangka pendek, efisiensi aritmatika, dan pelacakan visuomotor; kecepatan motor dan perhatian.

Urin digunakan sebagai indeks keseimbangan cairan dalam tubuh. Dalam upaya untuk menyederhanakan analisis urin, Dr. Lawerence Armstrong menerbitkan bagan warna urin pertama yang divalidasi pada tahun 1994. Skala 8 warna ini mencakup warna dari kuning pucat, warna jerami, (nomor 1) hingga warna hijau kecoklatan (nomor 8). Bagan ini adalah cara mudah untuk memantau status hidrasi Anda – jika warna urin Anda cocok dengan angka 1-3 pada bagan Anda terhidrasi dengan baik, jika warna urine Anda cocok dengan angka 7 atau lebih gelap Anda perlu minum cairan. Contoh bagan warna urin dapat ditemukan dalam publikasi “Performing in Extreme Environments” oleh Lawerence Armstrong PhD.


Karaginan atau karagenan, adalah campuran polisakarida alami dari ganggang beberapa keluarga Rhodophyceaes, rumput laut merah, yang dianggap oleh FDA sebagai agregat yang tidak berbahaya.

Karagenan digunakan sebagai aditif makanan yang juga dikenal sebagai E-407. Struktur karaginan dibentuk oleh rantai galaktosa yang dihubungkan oleh ikatan α (1-3) dan β (1-4). Panjang rantai itu penting, karena jika berat molekulnya kurang dari 100.000, karaginan tidak berguna sebagai agen pembentuk gel. Karagenan halus umumnya digunakan, yaitu, dalam bentuk gel bening tanpa selulosa atau serat dalam komposisinya, tetapi karagenan semi halus juga dapat digunakan, yang dalam hal ini adalah gel dengan banyak selulosa dan serat dalam komposisi dan karenanya secara visual buram

Dalam industri makanan karagenan banyak digunakan sebagai penstabil makanan, pengental dan agen pembentuk gel dalam media berair atau susu. Gel karagenan dapat dibalik secara termal dan tidak larut dalam cairan organik polar.

Kegunaan

Karaginan dapat ditemukan dalam banyak produk makanan, sebagian karena dapat dikonsumsi oleh semua kelompok agama, serta oleh vegetarian. Makanan yang paling sering menggunakan karagenan adalah:

Air: untuk membentuk jeli. Karagenan gel air, mengontrol teksturnya, meningkatkan pelepasan rasa jeli buah dan meningkatkan demoulding nya. Jeli sangat penting bagi mereka yang tidak bisa minum air putih karena mereka menderita gangguan menelan yang mencegah mereka menelan secara normal. Dalam kasus ini, jeli adalah cara sederhana untuk menyediakan air dan melembabkan pasien ini.

Produk susu: peningkatan kualitas organoleptik produk (tekstur), selain meningkatkan masa simpan dan mengurangi biaya.

Daging: digunakan sebagai bahan pengental atau pembentuk gel, untuk memberikan tekstur dan meningkatkan potongan potongan. Baru-baru ini, karaginan telah menjadi sangat penting dalam produk daging, karena karena kemungkinan teksturnya, karagenan dapat menggantikan sejumlah besar lemak dalam produk daging, sehingga industri makanan dapat memproduksi ham, pate, sosis, dan produk lainnya yang dimasak, dengan persentase lemak jauh lebih rendah daripada konvensional, dan karenanya, jauh lebih sehat.

Dalam manisan dan manisan, karagenan juga banyak diminati, dan sebagian besar juga dapat menggantikan bahan berlemak.

Selain industri makanan, banyak digunakan dalam pasta gigi, pakan ternak dan industri farmasi pada umumnya.

Tindakan pencegahan

Digunakan secara normal, tidak ada efek samping yang diketahui, namun, tampaknya dengan konsentrasi tinggi mereka dapat menyebabkan gas dalam perut kembung, karena ia bertindak sebagai polisakarida yang tidak dapat dicerna, difermentasi oleh flora usus.


Fungsi

Polisakarida, sama seperti karbohidrat lainnya, adalah sumber energi utama, dan karenanya merupakan salah satu komponen makanan utama. Polisakarida juga penting dalam organisme hidup karena mereka berfungsi sebagai komponen struktural dari struktur biologis, seperti selulosa dan kitin. Selulosa pada tumbuhan dipanen untuk penggunaan beragam dalam industri. Hewan mengkonsumsinya untuk mendapatkan monosakarida yang dapat mereka gunakan untuk mensintesis ATP. ATP adalah energi kimia yang disintesis secara biologis melalui respirasi aerob dan anaerob.

Glukosa adalah bentuk paling umum dari monosakarida yang digunakan sel untuk mensintesis ATP melalui fosforilasi tingkat substrat (glikolisis) dan / atau fosforilasi oksidatif (melibatkan reaksi redoks dan chemiosmosis). Dan salah satu sumber glukosa adalah diet yang mengandung karbohidrat. Terlalu banyak karbohidrat dalam diet sekalipun dapat menyebabkan masalah kesehatan.

Kadar gula darah yang tinggi secara konsisten pada akhirnya dapat menyebabkan diabetes mellitus. Usus juga perlu mengerahkan upaya yang lebih besar untuk mencernanya. Terlalu banyak fruktosa, misalnya, dapat menyebabkan malabsorpsi di usus kecil. Ketika ini terjadi, fruktosa yang tidak diserap diangkut ke usus besar dapat digunakan dalam fermentasi oleh flora kolon. Ini bisa menyebabkan sakit pencernaan, diare, perut kembung, atau kembung.

Tumbuhan menyimpan kelebihan glukosa dalam bentuk pati. Jadi, ada tumbuhan yang dipanen menggunakan pati untuk persiapan makanan dan keperluan industri. Hewan menyimpan karbohidrat dalam bentuk glikogen sehingga ketika tubuh menuntut lebih banyak glukosa, glukosa dapat diambil dari cadangan ini melalui proses, glikogenolisis.

Pengertian

Polisakarida adalah karbohidrat kompleks yang terdiri dari unit monosakarida berulang yang disatukan oleh hubungan glukosidik. Molekul polisakarida memiliki sejumlah molekul gula yang terikat bersama yang membentuk molekul yang lebih besar. Nama lain untuk mereka adalah Glikan. Bentuk karbohidrat paling umum yang kita temukan dalam makanan yang kita konsumsi adalah Pati yang merupakan karbohidrat kompleks. Sekarang, karbohidrat kompleks ini memiliki struktur molekul yang sangat bercabang dan diberi nama polisakarida.

Molekul polisakarida dengan mempunyai sejumlah molekul gula yang terikat bersama hingga dapat membentuk suatu molekul yang lebih besar. Sebutan lain untuk ini yakni Glikan.

Adapun definisi dari Polisakarida sendiri adalah sebuah polimer molekul monosakarida yang dapat berantai lurus atau bercabang dan dapat dihidrolisis dengan enzim yang spesifik kerjanya.

Dari hidrolisisdapat menghasilkan oligosakarida dan dapat dipakai untuk menentukan struktur molekul polisakarida.

Kemudian dengan menggunakan satuan monosakaridanya gula pentosa (C5H10O5) maka polisakarida tersebut dikelompokkan sebagai pentosan (C5H8O4)x.

Adapun jika satuan monosakaridanya adalah sebuah zat gula heksosa (C6H12O6) maka polisakarida tersebut dapat dikelompokkan sebagai heksosan (C6H10O5)x.

Rumus Kimia

Secara alami bentuk sakarida bersifat karbohidrat sederhana yang disebut dengan monosakrida dan rumusnya (CH2O)n dimana n adalah pewrhitungan tiga atau lebih.

Contoh monosakrida yakni glukosa, fruktosa, dan galaktosa. Sedangkan polisakarida mempunyai rumus yakni Cx(H2O)y dimana x biasanya antara 200 dan 2500.

Mengingat bahwa unit berulang dalam rantai polimer sebagian besar ialah monosakrida enam karbon, rumus umum polisakarida juga dapat dipresentasikan sebagai (C6H10O5)n dimana 40<n<3000.

Jenis

Dibawah ini terdapat beberapa polisakarida yang sangat penting di antaranya yakni amilum, glikogen, dekstrin, selulosa, dan heparin.

Amilum

Pada Amilum terdapat banyak di alam sebagai pati pada umbi, daun, dan biji-bijian. Adapunterbentuknya Amilum yakni dari hasil fotosintesis pada tumbuhan berklorofil.

Amilum tersusun oleh 20-28% amilosa (polisakarida berantai lurus) dan sisanya (amilopektin (polisakarida berantai cabang). Amilum bila direaksikan dengan Yodium memberikan warna biru tua. Hasil hidrolisis amilum mula-mula dekstrin, kemudian maltosa, dan akhirnya glukosa.

Glikogen

Kemudian pada Glikogen yakni didalam tubuh kita dan terletak pada hati (berfungsi sebagai tempat pembentukan gliokogen dari glukosa), terdapat juga dalam otot sebagai sumber energi cadangan.

Glikogen di alam terdapat pada kerang, alga, dan rumput laut. Glikogen dengan yodium menghasilkan warna coklat merah dan jika dihidrolisis menghasilkan glukosa.

Apabila kadar glukosa dalam darah bertambah, sebagian glukosa diubah menjadi glikogen dengan bantuan insulin, sehingga kadar glukosa dalam darah normal kembali.

Apabila kadar glukosa dalam darah menurun, glikogen dalam hati diuraikan kembali menjadi glukosa oleh adrenalin.

Selulosa

Pada selulosa hanya terdapat didalam tumbuhan sebagai bahan pembentuk dinding sel. Manusia tidak dapat mencerna selulosa ini, sebab di dalam tubuh tidak terdapat enzim yang dapat menguraikannya. Kapas dan kertas hampir seluruhnya terdiri dari selulosa , kayu mengandung 50% selulosa .

Selulosa terdapat sebagai serat-serat tumbuhan, sayuran, dan buah-buahan yang berguna untuk memperlancar pencernaan (jumlahnya tidak boleh terlalu banyak).

Adanya serat-serat dalam saluran pencernaan, gerak peristaltik ditingkatkan dan dengan demikian memperlancar proses pencernaan dan dapat mencegah konstifasi.

Heparin

Apa itu Heparin? adalah sebuah polisakarida yang berguna sebagai anti beku darah (anti koagulan) dan bekerja menghalangi protrombin menjadi trombin, yang selanjutnya bertindak sebagai katalisator pembentukan gumpalan.

Contohnya yakni pada pati dan glikogen, yang dapat disebut sebagai polisakarida penyimpanan, sedangkan selulosa dan kitin dikatakan sebagai polisakarida struktural.

selulosa : Ini adalah sebuah karbohidrat sangat berlimpah yang telah ditemukan di alam. Yang terdiri dari unit glukosa, disatukan oleh beta-linkage.

Hewan dan manusia tidak dapat mencerna selulosa ini , dalam hal ini disebabkan oleh mereka tidak mempunyai enzim untuk memutus hubungan beta. Kertas, mikroorganisme kapas dan kayu yakni jenis selulosa.

Perbedaan MonokSakarid dan Polisakarida

Tabel Perbedaan Antara Monosakarida dan Polisakarida

Perbedaan Monosakarida Polisakarida
Ukuran Monosakarida yakni merupakan sebuah senyawa karbohidrat berukuran kecil. Polisakarida adalah sebuah senyawa karbohidrat berukuran besar.
Rumus molekul Cn (H2O) n, di mana n yakni merupakan angka terkecil yang bervariasi dari 2-10. Cx (H2O) y, di mana x biasanya angka besar antara 200-2500.
Hidrolisis Monosakarida tidak dapat dihidrolisis lebih lanjut. Polissakarida tidak dapat dihidrolisis lebih lanjut karena mengandung 2 unit monosakarida atau lebih, yang dapat dipecah lebih lanjut.
Karakteristik Tidak berwarna, rasanya manis, penampilannya seperti kristal. Tidak ada rasa manis.
Kelarutan Larut dalam air, tetapi tidak larut dalam pelarut non polar. Polisakarida tidak larut dalam air.
Penyusun Mereka yakni unit karbohidrat paling sederhana, terdiri dari ikatan antara karbon, hidrogen dan oksigen. Polisakarida terdiri dari banyak (beberapa ratus) unit monosakarida.
Peran Monosakarida yakni merupakan sebuah sumber energi utama, yang menyediakan sekitar 4 kalori (kilo kalori) per gram. Polisakarida yakni sebuah komponen struktural dinding sel dan bertindak sebagai cadangan energi.

Dibawah ini terdapat beberapa perbedaan antara monosakarida dan poliisakarida:

  • Monosakarida adalah sebuah senyawa karbohidrat yang berukuran kecil yang terdiri dari unit sederhana karbon, hidrogen, dan oksigen; Sedangkan Poliisakarida adalah sebuah senyawa karbohidrat dengan berukuran besar yang terdiri dari banyak unit monosakarida yang dihubungkan oleh ikatan glikosidik.
  • Adapun Rumus molekul dari monosakarida yakni (CH2O) n, Yang mana n adalah sebuah bilangan yang sangat kecil dan bervariasi mulai dari 2-10 ,sedangkan Poliisakarida sendiri mempunyai sebuah Cx (H2O) y, yang mana x adalah sebuah bilangan yang besar antara 200-2500
  • Hal yang perlu diketahui bahwa Monosakarida tidak dapat dihidrolisis lebih lanjut disebabkan oleh dihadirkan dalam bentuk yang paling sederhana, sementara Poliisakarida sendiri sebab ia mengandung 2 atau lebih unit monosakarida, yang selanjutnya dapat dihidrolisis menjadi oligosakarida, atau monosakarida.
  • Pada Monosakarida tidak berwarna, mempunyai rasa yang manis dan penampilannya seperti kristal, namun rasa manis yang dimilikinya ,tidak ada dalam poliisakarida, walaupun mereka dibuat dari berbagai unit monosakarida, hal ini disebabkan oleh mereka adalah homopolisakarida atau heteropolisakarida.
  • Monosakarida larut dalam air, tetapi tidak larut dalam pelarut nonpolar; sedangkan polisakarida tidak larut dalam air
  • Terdiri dari unit karbohidrat paling sederhana, yakni karbon, hidrogen, dan oksigen; Poliisakarida terdiri dari banyak (beberapa ribu) unit monosakarida.


Pasteurisasi adalah tindakan meningkatkan suhu produk makanan dalam keadaan cair ke tingkat yang hampir tidak lebih rendah dari yang diperlukan untuk merebus, selama periode waktu yang dikurangi. Kemudian produk didinginkan dengan sangat cepat. Dengan cara ini dimungkinkan untuk menghilangkan mikroorganisme tanpa memodifikasi karakteristik makanan yang dimaksud.

Istilah pasteurisasi  muncul dari nama belakang ilmuwan yang menemukan prosesnya, Louis Pasteur, lahir pada tahun 1822 dan meninggal pada tahun 1895. Pria ini membuat, dengan kolaborasi Claude Bernard, proses pasteurisasi pertama pada bulan April 1864.

Penting untuk diingat bahwa, berlawanan dengan apa yang terjadi dengan sterilisasi, pasteurisasi gagal untuk menghancurkan semua sel bakteri termofilik atau spora mikroorganisme secara umum. Oleh karena itu, tujuannya bukan untuk menghilangkan semua patogen, tetapi untuk mengurangi populasi mereka sehingga makanan yang dipermasalahkan tidak menghasilkan keracunan bagi orang yang mengkonsumsinya.

Beberapa spesialis mengklaim bahwa pasteurisasi dapat menghancurkan vitamin makanan cair dan mengubah rasanya. Namun masalah ini, belum dikonfirmasi.

Berkat pasteurisasi, susu dapat dipindahkan dari jarak jauh tanpa dekomposisi. Pasteurisasi susu juga mencegah penyakit seperti salmonellosis, polio, TBC, difteri, demam tifoid dan demam berdarah.

Dalam jus kemasan, ada beberapa jenis pasteurisasi: ada jus yang tidak diproses (mentah) dan lainnya yang menjalani proses ultra-pasteurisasi (steril). Proses ini tidak memvariasikan rasa produk dan sangat efektif dalam minuman jenis ini, karena merupakan media asam. Mikroorganisme yang paling sering dalam jus adalah Bacillus cereus, dan Clostridium botulinum dan berbagai jenis Salmonella, tergantung pada buah yang dibuatnya. Dalam kasus ini, pasteurisasi dapat menghasilkan perubahan warna, mengubah cairan kecoklatan; Hal ini disebabkan oleh kerusakan yang diderita oleh enzim polifenoloksidase.

Minuman botol, krim, es krim, bir, anggur, dan keju adalah makanan lain yang menjalani proses pasteurisasi.

Di setiap negara ada agen khusus yang bertanggung jawab untuk mengontrol kualitas makanan; mereka menyelidiki metode Pasteurisasi yang paling direkomendasikan untuk produk ini atau itu dan menuntut agar semua distributor menyerahkannya ke proses ini. Beberapa agen ini adalah USDA (yang bertanggung jawab untuk pengendalian makanan di Amerika Serikat) dan Badan Standar Makanan (yang melakukan kegiatan yang sama di Inggris). Perlu disebutkan bahwa standar pasteurisasi bervariasi untuk setiap makanan, dan mungkin berbeda antara produk yang dibuat dari bahan baku yang sama, seperti keju dan yogurt.

Subjek pasteurisasi telah menjadi fokus perdebatan pada lebih dari satu kesempatan. Berkenaan dengan susu, misalnya, telah ditemukan bahwa banyak mikroorganisme berhasil mengembangkan pertahanan terhadap penurunan populasi mereka dengan suhu, mempertanyakan efek dari proses ini. Untuk menguatkan kepastian dari investigasi ini, pengujian seperti reaksi berantai polimerase yang memungkinkan untuk mengetahui tingkat kelangsungan hidup berbagai jenis mikroorganisme dilakukan. Juga harus disebutkan bahwa dalam kondisi tertentu, pasteurisasi dapat menghancurkan vitamin A dan B, sehingga proses ini tidak diragukan lagi tidak efisien dan memiliki banyak efek samping yang dipertanyakan.


Fitoplankton berasal dari kata Yunani di mana phytos berarti ‘tanaman’ dan planktos, berarti ‘berkeliaran’. Salah satu contoh paling umum dari genus planktonik adalah Synechococcus dan dapat mencapai kepadatan 104-105 sel per mililiter. Sedangkan Picocyanobacteria yang merupakan cyanobacterium sangat kecil mewakili 20-80% dari total fitoplankton.

Di sebagian besar lingkungan laut dan air tawar, Phytoplankton (prokariota fotosintesis dan organisme eukariotik) membentuk dasar produksi primer. Bahan organik terlarut dan partikulat dilepaskan oleh fitoplankton dan selanjutnya digunakan oleh bakteri heterotrofik.

Sebagian dari bahan ini dikonsumsi oleh pemangsa, yang selanjutnya melepaskan bahan tersebut dan akhirnya digunakan oleh fitoplankton. Besi dan nitrogen dapat membatasi aktivitas ini di lingkungan laut yang berbeda. Yang terpenting, fitoplankton memproduksi setengah dari oksigen dunia.

Pertumbuhan berlebih ganggang, juga dikenal sebagai mekar alga, adalah jenis fitoplankton yang menunjukkan tingginya tingkat kehadiran racun. Ia juga dikenal sebagai Red Tides. Ini menghasilkan kematian hewan laut dan ikan di badan air tertentu dan dengan demikian menciptakan zona mati. Dua kelas utama adalah dinoflagellata dan diatom adalah fitoplankton. Mereka juga memainkan peran utama dalam siklus karbon global.