Apa itu Pengertian radikula dan Plumula?

Dalam botani, radikula, bentuk embrionik dari akar utama tumbuhan fungsinya adalah sebagai bagian tanaman yang akan berkembang menjadi akar tanaman yang akan menyokong dan menyuplai bahan – bahan makanan untuk diproses pada bagian tanaman lainnya.

Plumula merupakan bakal calon batang yang tumbuh selama masa perkecambahan. Fungsinya adalah sebagai bagian tanaman yang akan mengalami perkembangan ke atas untuk membentuk batang dan daun.

Radikula adalah bagian pertama dari benih yang muncul dari benih selama perkecambahan. Tumbuh ke bawah (geotropisme positif). Di atas radikula adalah hipokotil, yang membawa kotiledon.

Plumula adalah pertumbuhan embrionik yang berkembang menjadi tunas. Ini menjadi daun asli pertama dari tanaman. Selama tunas benih, Plumula ditemukan di atas kotiledon. Plumula adalah bagian dari epikotil (pucuk kecil yang akhirnya menjadi batang tanaman, bunga, dan daun) yang tumbuh. Tumbuh kecil ketika ada cukup makanan disimpan di kotiledon atau endosperma. Sebaliknya, Plumula tumbuh besar ketika tidak cukup makanan disimpan dalam biji.

Pertumbuhan pertama dari tanaman yang belum sempurna, radikula keluar dari biji selama tahap pertunasannya. Bergantung pada arah perkembangannya, dua jenis radikula adalah sintropous dan antitropous. Sintropous adalah pertumbuhan radikula ke arah hilus, atau bekas luka pada biji yang menandai titik perlekatan pada pembuluh bijinya. Antitroposa adalah hasil radikula dari hilus.

Pertumbuhan awal tumbuhan berbiji dimulai dari biji. Biji mengandung potensi yang dibutuhkan untuk tumbuh menjadi individu baru, misalnya embrio, cadangan makanan, dan calon daun (calon akar). Sebutir biji mengandung satu embrio. Embrio terdiri atas radikula (yang akan tumbuh menjadi akar) dan plumula (yang akan tumbuh menjadi kecambah).

Cadangan makanan bagi embrio tersimpan dalam kotiledon yang didalamnya terkandung pati, protein dan beberapa jenis enzim. Kotiledon dikelilingi oleh bahan yang kuat, disebut testa. Testa berfungsi sebagai pelindung kotiledon untuk mencegah kerusakan embrio dan masuknya bakteri atau jamur ke dalam biji. Testa memiliki sebuah lubang kecil, disebut mikropil. Di dekat mikropil terdapat hilum yang menggabungkan kulit kotiledon. (Bagod Sudjadi, 2006)

Biji memiliki kandungan air yang sangat sedikit. Pada saat biji terbentuk, air di dalamnya dikeluarkan sehingga biji mengalami dehidrasi. Akibat ketiadaan air, biji tidak dapat melangsungkan proses metabolism sehingga menjadi tidak aktif (dorman). Dormansi biji sangat bermanfaat pada kondisi tidak nyaman (ekstrem; sangat dingin atau kering) karena struktur biji yang kuat akan melindungi embrio agar tetap bertahan hidup. (Bagod Sudjadi, 2006)

Tinggalkan Balasan