Mengapa enzim tidak dapat bekerja optimal pada suhu yang terlalu tinggi dan terlalu rendah

Aktivitas enzim dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti suhu, pH, dan konsentrasi. Enzim bekerja paling baik dalam kisaran suhu dan pH tertentu, dan kondisi tidak optimal dapat menyebabkan enzim kehilangan kemampuannya untuk mengikat substrat.

Suhu yang tinggi biasanya mempercepat suatu reaksi, dan suhu yang terlalu rendah biasanya memperlambat reaksi. Namun, suhu yang sangat tinggi dapat menyebabkan enzim kehilangan bentuknya (denaturasi) dan berhenti bekerja dan aktivitas enzim berkurang pada suhu yang terlalu rendah

Suhu memainkan peran penting dalam biologi sebagai cara untuk mengatur reaksi. Aktivitas enzim meningkat ketika suhu meningkat, dan pada gilirannya meningkatkan laju reaksi. Ini juga berarti aktivitas enzim berkurang pada suhu yang terlalu rendah. Semua enzim memiliki kisaran suhu ketika mereka aktif, tetapi ada suhu tertentu di mana mereka bekerja secara optimal.

Suhu optimal

Setiap enzim memiliki suhu di mana ia bekerja secara optimal, yang pada manusia sekitar 98,6 derajat Fahrenheit, 37 derajat Celsius – suhu normal tubuh manusia. Namun, beberapa enzim bekerja sangat baik pada suhu yang lebih rendah seperti 39 derajat Fahrenheit, 4 derajat Celcius, dan beberapa bekerja sangat baik pada suhu yang lebih tinggi.

Sebagai contoh, hewan dari Arktik memiliki enzim yang diadaptasi untuk memiliki suhu optimal yang lebih rendah sementara hewan di iklim gurun memiliki enzim yang disesuaikan dengan suhu yang lebih tinggi. Sementara suhu yang lebih tinggi meningkatkan aktivitas enzim dan laju reaksi, enzim masih berupa protein, dan seperti semua protein lainnya, suhu di atas 104 derajat Fahrenheit, 40 derajat Celcius, akan mulai memecahnya. Jadi, dua ujung kisaran aktivitas untuk enzim ditentukan oleh suhu apa yang memulai aktivitas dan suhu apa yang mulai memecah protein.

Tinggalkan Balasan